Minggu, 23 November 2008

wisata gunung dempo



Menyeruput Secangkir Teh di Gunung Dempo



Oleh
Muhamad Nasir

PALEMBANG - Menikmati dinginnya pegunungan dengan pemandangan kebun teh yang terbentang luas, ternyata tidak hanya dapat dilakukan di Puncak, Jawa Barat.

Di Sumatera Selatan, tepatnya di Gunung Dempo, suasana serupa bisa Anda dinikmati. Kelebihannya, Anda tidak harus stres menghadapi kemacetan di jalan raya.
Menyeruput secangkir teh manis panas yang dipetik dari lereng Gunung Dempo bisa memanaskan tubuh Anda kala pagi hari, setelah malam sebelumnya Anda berselimut dingin di vila atau hotel tempat Anda menginap.
Setelah mengguyur tubuh dengan air pegunungan yang mengalir hingga mencapai kamar mandi, mata Anda bisa makin terbelalak menyaksikan anugerah Tuhan berupa indahnya pemandangan.
Gunung Dempo adalah gunung tertinggi di Sumatera Selatan, setinggi 3.195 meter di atas permukaan laut (dpl), dan tergolong sebagai gunung berapi aktif yang sering mengeluarkan asap dengan menyemburkan sedikit lumpur ke dataran rendah di bawahnya. Gunung ini masuk dalam jajaran Pegunungan Bukit Barisan yang memiliki dua puncak, yaitu Gunung Dempo dan Gunung Marapi.
Kawasan Gunung Dempo merupakan satu-satunya lokasi wisata gunung di Sumatera Selatan. Di kawasan hutan menuju puncak Gunung Dempo terdapat sungai kecil dengan airnya yang jernih.
Para pendaki dapat memanfaatkan air sungai ini sebagai air minum selama perjalanan. Untuk mendaki, pengunjung harus melalui kawasan hutan dengan menelusuri jalan setapak yang dipenuhi akar-akar pepohonan besar yang melintang. Keadaan hutan ini lebat dan sunyi, hanya terdengar suara kicauan burung.
Dari ketinggian tertentu, pengunjung dapat menyaksikan hamparan kebun teh seluas 1.500 hektare milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII. Jika pengunjung melihat lebih jauh, akan tampak Kota Pagaralam. Panorama ini akan lebih indah jika dilihat pada malam hari, karena gemerlap lampu menghiasi Kota Pagaralam.
Gunung Dempo terletak sekitar 310 km sebelah barat Kota Palembang. Untuk mencapai gunung ini, pengunjung dapat menggunakan bus menuju Kota Pagaralam dalam waktu sekitar tujuh jam perjalanan. Tarifnya cukup Rp 70.000/orang untuk yang ber-AC dan Rp 40.000 untuk kelas ekonomi.
Dari Terminal Pagar Alam, pengunjung dapat menuju ke kaki Gunung Dempo yang jaraknya sekitar 15 km dengan mobil menuju Pabrik Teh PTPN III.
Di dekat pabrik teh ini, ada baiknya pengunjung menemui sesepuh Gunung Dempo, yang akan mengantar pengunjung ke desa terdekat dari kaki Gunung Dempo, yaitu Kampung Empat dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Dari tempat ini, perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak menuju ke Puncak Gunung Dempo. Jika ingin menginap, ada vila, losmen, motel, dan warung makan di kaki Gunung Dempo.
Kota Pagaralam selain mempunyai wisata alam juga memiliki lokasi purbakala. Terdapat sedikitnya 33 air terjun dan 26 situs menhir yang sudah tercatat. Ada pula Batu Gong, perkebunan teh lereng Dempo, Sungai Lematang Indah, Air Terjun Curup Embun, Arca Manusia Purba, dan kegiatan petualangan (adventure out door) berupa arung jeram atau aktivitas terbang layang.
Setelah digunakan untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XVI lalu, tersedia landasan untuk menikmati keindahan lereng Gunung Dempo dengan menggunakan pesawat layang.
Upaya menjual objek wisata memang telah dilakukan. Hanya saja, seperti diakui Wakil Ketua DPRD Pagaralam Suhardin, pendapatan dari sektor pariwisata belum signifikan. “Tetapi PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari wisata ini ditargetkan bisa menjadi modal pembangunan daerah. Makanya, pembangunan dan pengelolaan aset-aset wisata ditangani badan usaha daerah,” ujarnya.
Wali Kota Pagaralam Djazuli Kuris menyatakan, pelayanan diupayakan semaksimal mungkin. Tinggal menunggu bagaimana sinergi dengan program Visit Musi saja, sehingga wisatawan baik dari Nusantara maupun mancanegara bisa menikmati keelokan Gunung Dempo. “Mereka akan kami buat menyesal kalau tidak kembali lagi setelah kedatangan pertama,” katanya berpromosi. n

wisata goa





Menikmati Wisata Goa dan Arung Jeram di Lubuklinggau


Lubuklinggau: Kejayaan wisata Goa Napalicin dengan nuansa stalagtit dan stalagnit telah berlalu. Begitu juga arung jeram di Sungai Rawas, Musi rawas (Mura) pun senasib dengan objek air terjun Batu Ampar.

Memasuki kawasan Goa Napalicin di Kecamatan Ulu Rawas, Mura kita akan disuguhi nuansa bebatuan alami. Ya. Dari pintu masuk goa seluas sekitar 15 meter, bagian lantai dinding dan atas goa berbentuk stalagtit dan stalagnit yang terbentuk secara alami sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Objek yang terdapat di bumi Lan Serasan Sekantenan ini memang pernah menjadi primadona wisata sebelum krisis melanda tahun 1998 lalu.

Meskipun untuk mencapai lokasi dari Palembang, ibukota Sumsel sekitar 500 km tak mengurungkan para wisatawan dari Eropa mengunjungi objek ini. Dari Palembang, untuk mencapai Lubuklinggau, ibukota kabupaten Musirawas memang lumayan jauh, sekitar 350 km. Alternatif lain, bisa ditembus melalui Bengkulu yang hanya berjarak 150 km.

Dari Palembang, untuk mencapai Lubuklinggau bisa menggunakan kereta api dan bisa juga menggunakan travel atau mobil pribadi. Namun, menggunakan pesawat pun bisa.

Menggunakan kereta api, ditempuh semalaman jika menggunakan kereta malam atau seharian kalau menggunakan kereta siang, Kereta malam, kelas eksekutif biasanya berangkat sekitar jam 20.00 WIB dan tiba di Lubuklinggau sekitar pukul 05.00 WIB. Tiketnya, Rp 90.000 untuk kelas eksekutif dan Rp 45.000 untuk kelas bisnis. Menggunakan kereta api siang, kelas ekonomi jauh lebih murah, hanya Rp 12.000. Berangkat jam 08.00 WIB, sekitar pukul 19.00 WIB sudah menghirup udara Linggau

Menggunakan travel agak lebih mahal, namun bisa lebih cepat dan keberangkatananya lebih variatif. Tarif memang dipatok lebih tinggi Rp 120.000 hingga Rp 150.000.
Menggunakana pesawat, Bandara Silampari kini memiliki runway sepanjang 1.300 meter sehinga bisa didarati pesawat jenias Cassa. Kini terus diperpanjang dan direncanakan 2009 bisa bertambah menjadi 1.800 meter sehingga bisa didarati Fokker 100 bahkan Boeing 737. Sayang, belum ada penerbangan umum yang melayani rute ini.

Mencapai Lubuklinggau, belum bisa menikmati Goa Napalicin. Kita harus menempuh lagi perjalanan darat sejauh sekitar 135 km. 100 km diantaranya jalan mulus Jalan Lintas Sumatera, namun sisanya merupakan jalan berbatuan dan tanah. Sehingga, jarak dari Linggau ke lokasi harus ditempuh selama sekitar 5 jam.

Meskipun perlu perjuangan keras mencapai lokasi wisata ini, tak mengurungkan wisawatan mancanegara menikmatinya. Sejak didirikan tempat peristirahatan
yang diberi nama “Rawas River Lodge” atau dalam bahasa Belanda disebut Rawas River-Lodge bij het dorpje Surulangun, in het Zuid Sumatraanse tropische regenwoud, perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Musi Rawas sungguh sangat menjanjikan.

Setidaknya dalam kurun waktu tersebut (1992-1998) ribuan turis berkunjung ke daerah ini. Bahkan, kecamatan Ulu Rawas dan Rawas Ulu bisa dikatakan kawasan
wisata kedua setelah Bali.

Seiring terjadinya krisis ekonomi (krisis moneter) yang dilanjutkan dengan reformasi pertengahan tahun 1998, minat para turis untuk berlibur ke Indonesia khususnya di
Kabupaten Musi Rawas menurun drastis.
Sejak tahun 2000 hingga sekarang, sektor pariwisata di Musi Rawas benar-benar lumpuh. Sejak itu jumlah wisatawan manca negara khususnya dari Eropa yang berkunjung ke kabupaten Mura terus mengalami penurunan.

Puncaknya, sejak terbakarnya Kubu Lodge—sebuah tempat peristirahatan yang berada di kaki bukit batu-milik salah seorang investor keturunan Negeri Kincir Angin (Belanda) bernama Mr Johan Tedo, aktivitas wisata di kawasan itu lumpuh total.

Bupati Mura H Ridwan Mukti mengungkapkan, ada beberapa objek yang saat ini tengah dikembangkan. Diantaranya, Goa Napalicin, Danau Raya, Danau Suka Hati, dan Danau Gegas. Objek wisata ini merupakan 20 dari potensi wisata yang ada di daerah ini.
Mantan anggota DPR RI ini menyatakan bahwa Mura saat ini berusaha menjadi poilot project pengembangan pariwisata. Dimana akan mengajak kabupaten/kota se-Sumsel untuk duduk satu meja menggagas paket wisata yang sinergis. Sehingga wisatawan nantinya daat menikmati paket wisata yang saling tersambung satu sama lain di Sumsel.
Akses ke lokasi akan dibangun sehingga calon wisawatan bisa lebih menikmati perjalanan menuju objek wisata di daerahnya.

Legenda
Konon, menurut legenda yang dipercaya warga setempat sampai sekarang, dulunya bukit tersebut adalah sebuah kapal yang terdampar—di zaman kapan, tidak diketahui secara pasti.
Pada suatu saat, lewatlah seorang pengembara sakti bernama Serunting Sakti atau lebih dikenal dengan Si Pahit Lidah. Melihat ada kapal yang terdampar, Si Pahit Lidah berusaha untuk naik ke atasnya. Beberapa kali Si Pahit Lidah berusaha untuk naik, namun tetap saja tidak membuahkan hasil. Si Pahit Lidah menggumam. Gumamannya itu ternyata membuat kapal tadi berubah menjadi batu.
Cerita ini dibenarkan ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Napallicin, M Damiri Rozak. Berdasarkan cerita turun-temurun dari neneknya, bukit batu tersebut dulunya adalah sebuah kapal jung yang terdampar. Namun oleh Si Pahit Lidah disumpahnya menjadi batu.

Gua batu Napalicin yang terdapat di ketinggian sekitar 20 meter dari jalan, di dalamnya terdapat lorong sepanjang lebih kurang 1,5 kilometer menghubungkan empat bukit (Bukit Batu, Bukit Semambang, Bukit Payung dan Karang Nato —orang setempat menyebutnya, Bukit Keratau).
Lorongnya pun tidak luas, hanya bisa dilalui dengan cara merunduk bahkan tiarap. Jarak bukit itu sendiri dari ibukota kecamatan sekitar 12 kilometer, bisa dijangkau melalui jalan darat maupun sungai. Hingga kini di dalam gua batu masih tersimpan
sejuta misteri.
Di bagian depan, pengunjung langsung disuguhi pemandangan yang artisik. Saat ini, para engunjung yang umumnya wisatawan lokal,. Akan disuguhi budaya lokal berupa tarian dan lagu daerah. Diiringi. Biola, seorang tetua menghibur pengunjng diiringi anak-anak yang membawakan tarian menyambut tamu.

Memasuki lorong-lorong goa, kelelawar beterbangan. Titik-titik air dari atas goa memberikan kesan mistis. Apalagi, sesekali kelelawar beterbangan. Pada beberapa bagian, memang gelap sehingga warga setempat memasang beberapa obor bambu. Di bawawah cahaya temaram, keindangan berbagai sisi goa semakin berbinar. Berbagai bentuk terlihat. Setidaknya kita butuh lebih dari 4 jam untuk menikmati berbagai sudut goa. Pada beberapa bagian, cahaya menembus goa. Terutama, antara bukti yang satu dengan bukit yang lain. Celah-celah batu tak sedkit pun tidak membiaskan bentuk artistik. Sehingga decak kagum akan terus kita keluarkan.


Setelah menikmati Gua batu Napalicin, kita masih objek wisata Air Terjun Sungai Kerali (Desa Napallicin) dan Air Terjun Batu Ampar, Desa Kota Tanjung. Lalu di Sungai Rawas, yang berada di sisi Goa Napalicin dapat digunakan untuk berarung jeram kaerena arusnya yang deras dan beberapa rintangan alami juga terdapat di sepanjang sungai
Jika dilihat dari segi keindahan, air terjun Sungai Kerali, tidak begitu menarik hanya terdapat batu-batuan saja.
Namun dulu, saat populasi ikan sungai masih banyak, air terjun Sungai Kerali merupakan tempatnya ikan melompat, terutama saat air pasang.
Untuk menuju ke air terjun Sungai Kerali, bisa dijangkau dengan perahu, motor ketek atau bisa pula dengan berjalan kaki.
Air terjun Batu Ampar adalah bebatuan dari napal yang terhampar secara bertingkat. Dulu, saat daerah itu masih alami, belum ramai di kunjungi dengan kondisi hutan TNKS masih asri, tempat tersebut sangat terasa indahnya karena air terjunnya mengalir secara bertingkat-tingkat. Di hamparan batu napal, terdapat lobang-lobang kecil.
Uniknya, ketika sungai pasang, napal bertingkat tadi tenggelam oleh air. Tapi ketika sungai surut, banyak sekali ikan yang terjebak di dalam lobang.
Masyarakat yang berkebun maupun berladang di sekitar lokasi objek wisata batu ampar, tinggal menangkap saja ikan yang terjebak di dalam lobang itu.
Objek ini, mungkin bisa dijadikan alternatif. Terutama bagi mereka yang punya hobi berpetualang di alam yang masih asri dan perawan. (sh/muhamad nasir)

Selasa, 14 Oktober 2008

Sabtu, 28 Juni 2008

jamu

Senin, 02 Juni 2008

Cerpen

Bertopeng Gincu

Tubuhnya memang lumayan ramping. Putih dengan sedikit bakat*. Itu pun hanya di tulang kering, kenangan masa kecil yang nakal, dan sedikit tomboy.

Saat mandi hujan bersama anak seumuran, terjatuh. Terus berlari dan tak terasa kalau ada pecahan beling menyentuh tulang keringnya. Ketika hujan berhenti, barulah diketahui banyak darah mengucur dri lukanya. Akibat nakal, luka itu terus menganga dan bernanah akhirnya menjadi koreng.

Orang tuanya yang Ketua RT tidak tahu kalau anaknya, Lia atau nama lengkapnya Sri Meliawati terluka saat mandi hujan. Sepengetahuannya, anak nomor duanya itu tidur siang ketika petir dan kilat begitu ramai sebelum hujan turun.

Begitupun ibunya, yang berjualan ikan di pasar pagi Pasar 16 yang kini menganggur karena lokasi berjualannya telah digusur, sementara untuk pindah di Jakabaring, rasanya tak mampu karena sepi pembeli. Yang banyak justru pedagang yang termangu menunggu pembeli. Jangankan menawar, batang hidungnya pun sangat jarang terlihat. Ibunya tak tahu kalau anaknya yang berhidung mancung dengan alis lebat itu punya luka di tulang keringnya.

Apalagi, memang meski masih kelas I sekolah dasar, Lia tergolong mandiri. Mulai dari mandi sampai mencuci dia lakukan. Bahkan, pakaian kakaknya yang sulung dan adiknya yang belum sekolah pun terkadang dia yang mencuci. Karenanya, wajar kalau kedua orang tuanya tak begitu memperhatikan jalannya yang sedikit pincang. Karena selama ini ditegarkan ketika melewati ayahnya yang sedang menerima tamu yang mengurusi soal jual beli beras untuk rakyat miskin, saat mau pergi sekolah.

Luka itu memang lumayan besar. Terkadang nanah meleleh. Lalat tampak mengerubungi nanah yang menembus kaos kaki putih yang membungkus luka itu. Kalau saja tidak ditutup kaos kaki yang mengakibatkan lengket dan saat melepas kaos kaki kembali koreng itu menganga, mungkin tidak akan membusuk. Begitupun kalau diberi obat salep atau antibiotik, mungkin hanya seminggu sudah sembuh.

Tetapi, Lia bisa menyimpan luka itu hampir tiga bulan. Dan orang tuanya tak tahu. Kalaupun akhirnya sembuh, itu lebih karena tubuhnya yang kecil masih memiliki antibody dan sekolahnya libur. Hingga ahirnya luka itu mengering karena dia tak perlu lagi mengenakan kaos kaki. Alih-alih, dia mengenakan celana panjang terus biar tidak dilihat orang tuanya. Melhat dia sering mengenakan celana panjang, ibunya tampak senang karena berpikir anaknya sudah besar.

Sayang dia tidak berjualan lagi sehingga tidak bisa membelikan celana panjang baru.

Prestasi belajar Lia sesungguhnya biasa saja. Yang menarik mungkin hanya kepandaiannya membuat topeng. Saat pelajaran keterampilan, dia dinilai sangat bagus oleh gurunya. Karena karya topeng kertasnya lumayan bagus. Dan topeng itu pun dikenakannya.

Dia tampak lebih dewasa menganakan topeng itu. Apalagi, dengan gincu** milik ibunya, gambaran bibir di kertas itu tampak sangat menyala. Merahnya memang sangat merah. Lia tidak tahu kalau gincu itu dikenakan ibunya setahun sekali. Dan olehnya, ketika membuat topeng, gincu yang dibalut plastik warna biru itupun tinggal separo.

Ibunya yang baru pulang berjualan sempat terkejut ketika masuk rumah melihat orang yang mengenakan topeng. Dia mengira anak kecil yang duduk di ruang tamu itu anak tetangganya yang kemarinnya mencuri uang di dompetnya.

Hampir saja dia beraksi. Kalau saja Lia tidak membuka topeng, mungkin cubitan sudah mampir di pinggangnya.

Begitu juga dengan ayahnya, yang sedang sibuk menghitung angka fiktif penyaluran beras untuk rakyat miskin, sempat mengelus dada ketika menoleh ada orang mengenakan topeng.

Dikiranya anak tetangga yang dua hari sebelumnya menangis minta bagian beras yang memang hak mereka. Namun, dijawabnya bahwa beras sudah habis disalurkan. Padahal, sebagian besar dijualnya ke warung langganan.

Tangan kirinya yang memegang rokok kretek yang hampir habis, sempat tersentak dan jatuhlah potongan rokok yang sebenarnya masih sangat nikmat untuk diisap. Tangan kanannya menutupi angka-angka jumlah beras. Kesalnya seperti sudah di ubun-ubun, ingin mengambil puntungan rokok yang masih dua hisapan lagi jelas tak bisa karena kedua tangannya difungsikan untuk pekerjaan lain.

Memastikan itu anaknya, dia pun hanya menggelengkan kepala sembari mengambil puntungan rokok yang masih menyala dan jatuh di sendal jepitnya. Sayang, puntungan rokok itu membakar sendal dan apinya telah padam. Tak bisa dirokok lagi karena lelehan karet melekat kuat di atas bekas bara api di ujung rokok yang ukurannya sudah sangat pendek.

Dia pun menarik topeng yang dikenakan Lia. Karetnya putus. Topengnya robek. "Anak nakal mengagetkan orang tua saja. Nih belikan bapak rokok," ujarnya sedikit geram.

Lia langsung memerah matanya. Entah karena disuruh membei rokok atau topengnya yang dirusak. Yang jelas, dia mengambil uang lalu berlari. Dan taklama kemudian kembali dengan setengah bungkus rokok di tangannya.

Di tangannya masih tersisa robekan topeng. Tampak tanda tangan gurunya dan coretan nilai 9 di topeng itu juga ikut terkoyak. "Yah," gumamnya lemah.

Sampai menamatkan SMA, Lia memang tergolong anak yang penurut. Tak diberi ongkos untuk sekolah, dia berjalan kaki ke sekolahnya yang lumayan jauh. Untung memang teman-temannya banyak juga yang berjalan kaki.

Tubuhnya berkembang bagus. Meski sering berjalan kaki ke sekolah, betisnya tidak besar. Ramping dan tetap mulus. Soalnya, di bawah rok seragamnya, dia rajin menutupinya dengan kaos kaki.

Di kelas tiga, dia mulai mengenal perasaan menyenangi lawan jenis. Beruntung, sang cowok, Gandi ternyata juga memang sering meliriknya. Jadilah mereka pun sering belajar bersama. Kalau ada pekerjaan rumah selalu dikerjakan bersama. Kalau tidak di rumahnya, ya di kosannya Gandi.

Saling senyum, saling lirik dan saling bantu memecahkan sulitnya pekerjaan rumah ataupun tugas dari guru, membuat keduanya tanpa disadari mengenal ciuman. Lalu raba-rabaan. Sampai akhirnya, tak sengaja keduanya pun melakukan hal yang sebenarnya tak boleh dilakukan.Itu semua berlangsung tanpa rencana. Lia pun tak menyesal. Karena dia merasa Gandi selalu meperhatikannya. Hingga pengumuman kelulusan, keduanya masih terlihat berduaan. Sampai akhirnya, Gandi yang merantau dipanggil orang tuanya untuk kembali ke kotanya di Tanjungkarang, Lampung.

Hubungan melalui surat masih berlangsung hingga bulan ketiga keduanya berpisah,. Sampai akhirnya, mulai jarang dan tak ada sama sekali komunikasi.

Lia sendiri tak lagi mempersoalkan Gandi. Apalagi kini dia telah sibuk dengan pekerjaan barunya, di counter hand pone. Gajinya lumayan kecil.

Untuk kebutuhannya sebenarnya tidak cukup. Tapi tepas saja dilakoninya.

Di kesibukannya dia berkenalan dengan seorang pegawai negeri yang cukup royal. Yang selalu memberi uang lebih saat membeli pulsa. Kembali Lia tersentuh dan dia pun tak menampik bantuan dan harapan sang PNS, Imam.

Ternyata gaung bersambut. Seiring mengalirnya bantuan berupa uang maupun hadiah lainnya, rayuan Imam pun semakin maut. Bisa ditebak, keduanya pun berpagutan.

Lia tak serius lagi bekerja, waktunya lebih banyak untukImam. Dia pun akhirnya memilih berhenti bekerja. Setiap hari dia masih pergi kerja. Tetapi kakinya kini mengarah ke rumah yang disewa Imam.

Kedunya ibarat pengantin baru. Lingkungan di rumah susun tempat keduanya menyewa, termasuk tak pedulian.

Sampai akhirnya terjadi ribut besar di rumah sewa mereka. Ketika seorang wanita datang diam-diam dan bersuara lantang beberapa menit kemudian.

Yang mengejutkan para tetangga dan Ketua RT setempat. Baik Lia maupun Imam tak bisa lagi berkata-kata.

Pak RT pun mendamaikan. Mereka tak menyangka kalau keduanya belum menikah. "Saya kira mereka sudah menikah. Abis kayak pengantin baru," ujar Pak RT lemah.

Lia pucat. Apalagi kemudian orang tuanya diminta didatangkan untuk menyelesaikan persoalan itu di kantor polisi. Ternyata tak cukup hanya di tangan Pak RT.

Sebagai istri Imam, ternyata wanita itu tak menerima perbuatan sang suaminya. Dia bahkan telah melapor polisi.

Di hadapan orng tuanya, Lia hanya terdiam di sudut ruangan. Dia tak berani menatap mata ibunya. Apalagi memeluknya untuk mencurahkan perasaan.

Terlebih kepada ayahnya yang ternyata saling kenal dengan Ketua RT. Karena mereka sering ketemu saat demo menuntut tunjangan ketua RT di kantor Walikota.

Ayah dan ibunya diam dalam geram. Tak bisa menerima kenyataan yang ada. "Habis saya, kalau begini. Aku tak bisa menerima," hanya itu yang terdengar dari mulut ayah Lia.

Dia sempat bersitegang dengan istrinya ketika pulang tanpa Lia. Tetapi, sang istri hanya menurut.

"Ayo pakai gincu dan bedakmu. Masak polos begitu. Ada job tu," ujar seorang wanita yang menjabat GM*** di kosan mentereng tak jauh dari kampus perguruan tinggi swasta di Palembang.

Lia pun terkejut. Lamunannya lepas. Kini dia telah siap mengenakan topengnya, ditambah gincu. Apapun yang dialaminya dia harus tersenyum. Suka atau tak suka. Nanti lembaran uang pun akan mengalir ke kantongnya setelah dipotong oleh GM untuk ongkos taksi dan biaya tetek-bengek lainnya.

Topeng itu telah menyatu dengan dirinya. Saat dia berbelanja di mal menghambur-hamburkan uang, orang pun tak menyangka dia mengenakan topeng. Kecuali lelaki yang pernah tidur dengannya. Jelas sekali, kepolosan di tubuhnya sekalipun. Apalagi, ketika memorinya terbayang ke kamar hotel tempat mereka pernah bergumul.

Hanya ketika di kamar sendirian, Lia terkadang menangis. Dia masih berpikir untuk sujud ke kaki orang tuanya. Lalu sujud di sejadah meminta ampun di hadapan Allah SWT. Namun entah kapan. Meskipun dia masih pandai mengaji dan fasih bacaan salat. Serta hapal jalan ke rumahnya.

Palembang, November 2007

Muhamad Nasir

Jalan Maysabara Lorong Pendopo No 127 RT 02 RW 01, Kelurahan 20 Ilir D-II, Sekip, Palembang

Telp (0711) 314139

HP 08197891615 email: nasirsetr@yahoo.com/nasirsetran@plasa.com

*Bekas luka yang membekas di kulit.

**Lipstik

***Istilah di kalangan wanita panggilan untuk menyebut germo.


oke, KPU Sumselmundur, pilgub terancam