Tampilkan postingan dengan label wisata sungai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata sungai. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 November 2010
Cap Go Meh, Potong Kambing Hitam di Pulau Kemaro
Sinar Harapan, Jumat 22 Februari 2008
Oleh
Muhamad Nasir
Palembang - Puncak perayaan Imlek 2559 ditandai dengan perayaan Cap Go Meh yang diartikan sebagai awal permulaan membuka lembaran baru kehidupan dengan meminta keselamatan, kesehatan, kesejahteraan dan rezeki yang berlimpah.
Di Palembang, puncak ritual Cap Go Meh dilaksanakan di Pulau Kemaro yang merupakan sebuah delta di Sungai Musi, sekitar 5 km sebelah hilir Jembatan Ampera. Di pulau ini terdapat sebuah Kelenteng Hok Ceng Bio. Tepat pukul 00.00 WIB, nyala kembang api berpijaran menghiasi langit di atas Pulau Kemaro, ditingkahi bunyi dari delapan tambur yang dipukul bersahut-sahutan.
Pijaran kembang api itu menandai perayaan Cap Go Meh, momen terakhir penyambutan sin cia sekaligus peresmian pagoda Kelenteng Hok Tjing Bio oleh Gubernur Sumsel Ir Syahrial Oesman.
Sebelumnya, dipimpin pengurus Kelenteng Hok Tjing Bio menyembelih seekor kambing warna hitam di depan makam Buyut Fatimah. Setelah itu, 100 kambing lainnya hasil sumbangan umat juga turut disembelih. Perayaan Cap Go Meh ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya tradisional China, seperti barongsai, liong, wayang orang China, dan hadir pula kelompok tanjidor.
Dalam perayaan Cap Go Meh, ribuan masyarakat etnis China maupun pribumi termasuk yang datang dari berbagai kota bahkan dari luar negeri seperti Singapura dan Malaysia berkunjung ke Pulau Kemaro untuk melakukan sembahyang atau berziarah. Perayaan ini berlangsung selama dua hari.
Di Pulau Kemaro perayaan Cap Go Meh menggambarkan kegiatan peribadatan yang sekaligus juga merupakan “perkawinan” budaya yang sebenarnya. Selain barongsai dan liong yang meramaikan malam puncak Cap Go Meh - tahun ini jatuh pada pergantian hari dari tanggal 19 Februari ke 20 Februari di Pulau Kemaro hadir pula kelompok tanjidor dan penyembelihan kambing persembahan.
Nuansa peribadatan agama Buddha Tridharma dengan nuansa keislaman terasa begitu kentara di Pulau Kemaro. Bercampur aroma dan padatnya asap hio yang dibakar. Ini tidak lain karena dalam sejarahnya Pulau Kemaro memang ada hubungannya dengan kedua agama tersebut.
Terbersit dalam legenda kisah cinta Fatimah dengan suaminya Tan Po Han berabad-abad lalu. Oleh karena itulah, selain bersembahyang kepada Thien (Tuhan Yang Maha Esa), umat yang datang pun bersembahyang untuk Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), Buyut Fatimah, Dewi Kwan Im, Dewa Langit, Dewi Laut, dan juga penunggu Pulau Kemaro.
Selain garu/hio, serta perlengkapan peribadatan Tridharma lainnya yang banyak dibawa ke pulau itu, ada juga rangkaian bunga serta kambing yang dibawa masuk ke Pulau Kemaro. Syarat-syarat upacara memang beragam, seperti nasi kuning plus ayam panggang, nasi gemuk dan telur rebus, pisang dan beragam buah-buahan, serta opak dan jeruk purut. Di beberapa sudut kelenteng, syarat upacara memang tampak memenuhi areal berdampingan dengan hio dan lilin serta garu yang dibakar.
Karena suasana yang memang semarak inilah, saat puncak perayaan Cap Go Meh, Pulau Kemaro dikunjungi sekitar 20.000 hingga 30.000 umat dan pengunjung dari Sumsel dan luar Sumsel. Pengunjung dari Singapura, Jakarta, Sumatera Utara, Bengkulu, Lampung, Jambi, dan Bangka Belitung, terdaftar memadati perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro.
Dijadikannya Pulau Kemaro sebagai pusat kegiatan perayaan Cap Go Meh ketimbang sejumlah kelenteng dan wihara lainnya di Palembang, menurut informasi, karena selama ini mereka yang berdoa di Kelenteng Hok Ceng Bio banyak yang terkabul doanya. Selain berdoa kepada para leluhur, masyarakat Tionghoa yang datang ke sini pun ada yang meminta jodoh serta meminta sukses dalam bisnis dan karier.
Pinjam Angpau
Hal ini diakui seorang pengusaha Hermanto Wijaya yang juga Ketua Walubi Sumsel. “Saya dulunya juga meminjam angpau. Tetapi sekarang hanya sembahyang saja. Giliran mereka yang muda-muda meminjam angpau,” ujarnya.
”Terserah mau berapa pinjamnya. Bisa lima juta, 30 juta, atau berapa. Itu semuanya diwakili 10 angpau (uang logam yang dibungkus dengan kertas merah). Angpau tersebut kemudian dibawa pulang dan ditaruh di laci di rumah atau di kantor. Bila berhasil, tahun depan boleh membayarnya berapa saja, Rp 100.000, Rp 50.000, atau berapa saja. Kalau belum berhasil, tidak bayar juga tidak apa-apa,” tambah Chandra yang diiyakan Hermanto Wijaya.
Tampak memang beberapa umat memberikan imbalan berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 100.000 kepada petugas penuntun. Itu mungkin, mereka yang telah sukses usaha maupun kariernya atau telah menemukan jodoh.
Sementara itu, uang yang beredar di Pulau Kemaro bisa berkisar Rp 2 miliar. Sedangkan uang yang beredar di Sumsel selama perayaan Cap Go Meh bisa lebih dari itu.
Di hari-hari biasa, Pulau Kemaro akan kembali sepi. Tinggal nanti para panitia membersihkan sisa-sisa upacara. Akankah permohonan pengunjung dipenuhi Dewa, mungkin ukurannya adalah banyak tidaknya pengunjung Cap Go Meh tahun berikutnya. Ini karena mereka yang berhasil akan datang kembali mengembalikan uang yang dipinjamnya ataupun membawa anak-anak hasil perjodohannya yang dipercaya didapat setelah ke Pulau Kemaro, melaksanakan Cap Go Me
Oleh
Muhamad Nasir
Palembang - Puncak perayaan Imlek 2559 ditandai dengan perayaan Cap Go Meh yang diartikan sebagai awal permulaan membuka lembaran baru kehidupan dengan meminta keselamatan, kesehatan, kesejahteraan dan rezeki yang berlimpah.
Di Palembang, puncak ritual Cap Go Meh dilaksanakan di Pulau Kemaro yang merupakan sebuah delta di Sungai Musi, sekitar 5 km sebelah hilir Jembatan Ampera. Di pulau ini terdapat sebuah Kelenteng Hok Ceng Bio. Tepat pukul 00.00 WIB, nyala kembang api berpijaran menghiasi langit di atas Pulau Kemaro, ditingkahi bunyi dari delapan tambur yang dipukul bersahut-sahutan.
Pijaran kembang api itu menandai perayaan Cap Go Meh, momen terakhir penyambutan sin cia sekaligus peresmian pagoda Kelenteng Hok Tjing Bio oleh Gubernur Sumsel Ir Syahrial Oesman.
Sebelumnya, dipimpin pengurus Kelenteng Hok Tjing Bio menyembelih seekor kambing warna hitam di depan makam Buyut Fatimah. Setelah itu, 100 kambing lainnya hasil sumbangan umat juga turut disembelih. Perayaan Cap Go Meh ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya tradisional China, seperti barongsai, liong, wayang orang China, dan hadir pula kelompok tanjidor.
Dalam perayaan Cap Go Meh, ribuan masyarakat etnis China maupun pribumi termasuk yang datang dari berbagai kota bahkan dari luar negeri seperti Singapura dan Malaysia berkunjung ke Pulau Kemaro untuk melakukan sembahyang atau berziarah. Perayaan ini berlangsung selama dua hari.
Di Pulau Kemaro perayaan Cap Go Meh menggambarkan kegiatan peribadatan yang sekaligus juga merupakan “perkawinan” budaya yang sebenarnya. Selain barongsai dan liong yang meramaikan malam puncak Cap Go Meh - tahun ini jatuh pada pergantian hari dari tanggal 19 Februari ke 20 Februari di Pulau Kemaro hadir pula kelompok tanjidor dan penyembelihan kambing persembahan.
Nuansa peribadatan agama Buddha Tridharma dengan nuansa keislaman terasa begitu kentara di Pulau Kemaro. Bercampur aroma dan padatnya asap hio yang dibakar. Ini tidak lain karena dalam sejarahnya Pulau Kemaro memang ada hubungannya dengan kedua agama tersebut.
Terbersit dalam legenda kisah cinta Fatimah dengan suaminya Tan Po Han berabad-abad lalu. Oleh karena itulah, selain bersembahyang kepada Thien (Tuhan Yang Maha Esa), umat yang datang pun bersembahyang untuk Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), Buyut Fatimah, Dewi Kwan Im, Dewa Langit, Dewi Laut, dan juga penunggu Pulau Kemaro.
Selain garu/hio, serta perlengkapan peribadatan Tridharma lainnya yang banyak dibawa ke pulau itu, ada juga rangkaian bunga serta kambing yang dibawa masuk ke Pulau Kemaro. Syarat-syarat upacara memang beragam, seperti nasi kuning plus ayam panggang, nasi gemuk dan telur rebus, pisang dan beragam buah-buahan, serta opak dan jeruk purut. Di beberapa sudut kelenteng, syarat upacara memang tampak memenuhi areal berdampingan dengan hio dan lilin serta garu yang dibakar.
Karena suasana yang memang semarak inilah, saat puncak perayaan Cap Go Meh, Pulau Kemaro dikunjungi sekitar 20.000 hingga 30.000 umat dan pengunjung dari Sumsel dan luar Sumsel. Pengunjung dari Singapura, Jakarta, Sumatera Utara, Bengkulu, Lampung, Jambi, dan Bangka Belitung, terdaftar memadati perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro.
Dijadikannya Pulau Kemaro sebagai pusat kegiatan perayaan Cap Go Meh ketimbang sejumlah kelenteng dan wihara lainnya di Palembang, menurut informasi, karena selama ini mereka yang berdoa di Kelenteng Hok Ceng Bio banyak yang terkabul doanya. Selain berdoa kepada para leluhur, masyarakat Tionghoa yang datang ke sini pun ada yang meminta jodoh serta meminta sukses dalam bisnis dan karier.
Pinjam Angpau
Hal ini diakui seorang pengusaha Hermanto Wijaya yang juga Ketua Walubi Sumsel. “Saya dulunya juga meminjam angpau. Tetapi sekarang hanya sembahyang saja. Giliran mereka yang muda-muda meminjam angpau,” ujarnya.
”Terserah mau berapa pinjamnya. Bisa lima juta, 30 juta, atau berapa. Itu semuanya diwakili 10 angpau (uang logam yang dibungkus dengan kertas merah). Angpau tersebut kemudian dibawa pulang dan ditaruh di laci di rumah atau di kantor. Bila berhasil, tahun depan boleh membayarnya berapa saja, Rp 100.000, Rp 50.000, atau berapa saja. Kalau belum berhasil, tidak bayar juga tidak apa-apa,” tambah Chandra yang diiyakan Hermanto Wijaya.
Tampak memang beberapa umat memberikan imbalan berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 100.000 kepada petugas penuntun. Itu mungkin, mereka yang telah sukses usaha maupun kariernya atau telah menemukan jodoh.
Sementara itu, uang yang beredar di Pulau Kemaro bisa berkisar Rp 2 miliar. Sedangkan uang yang beredar di Sumsel selama perayaan Cap Go Meh bisa lebih dari itu.
Di hari-hari biasa, Pulau Kemaro akan kembali sepi. Tinggal nanti para panitia membersihkan sisa-sisa upacara. Akankah permohonan pengunjung dipenuhi Dewa, mungkin ukurannya adalah banyak tidaknya pengunjung Cap Go Meh tahun berikutnya. Ini karena mereka yang berhasil akan datang kembali mengembalikan uang yang dipinjamnya ataupun membawa anak-anak hasil perjodohannya yang dipercaya didapat setelah ke Pulau Kemaro, melaksanakan Cap Go Me
Rabu, 11 Maret 2009
Wisata Sungai di Empat Lawang
Wisata Sungai di Empat Lawang
Arung Jeram di Musi Ulu
Tebingtinggi: Aliran Sungai Musi Ulu memberikan peluang untuk dinikmati dengan menumpang perahu karet dengan olahraga arum jeram.
Jalur sepanjang 29 km dari Desa Tanjungraya hingga ke Tebingtinggi, ibukota Kabupaten Empat Lawang memang memiliki beberapa titik berupa arus deras yang bisa meningkatkan andrenalin. Karena, selain arus yang deras dan bergelombang ditambah pusaran yang membuat perahu terombang-ambing, juga bebatuan besar dan keras membuat penumpang perahu harus hati-hati.
Kalau tidak, perahu bisa terbalik dan terbentur batu. Kalau lagi apes, bukan tidak mungkin kepala terbentur. Tanpa helm, tentu akan berbahaya.

Jalur ini memang kalau dinilai, memiliki tingkat kesulitan tingkat tiga. Dengan debit air yang cukup deras serta tingkat kesulitan dan berbahaya yang lumayan tinggi.
Di beberapa titik, lekukan akibat adanya batu-batu besar membuat perahu karet terombang-ambing dan kalau tak pandai-pandai mengendalikan bisa terbalik.
Dalam ekspedisi Musi Ulu yang juga melintasi jalur ini pekan lalu, dari lima perahu karet yang membawa tim ekspedisi hanya satu perahu yang tidak terbalik.
Perahu karet yang membawa Bupati Tebingtinggi Budi Antoni Aljufri, bahkan sempat terbalik. Sang bupati yang menumpang perahu karet bersama lima orang lainnya sempat terpental.
Kalau saja bernasib buruk, sang Bupati bisa terbentur batu. Begitu juga perahu karet lainnya, yang ditumpangi para wartawan sempat dua kali terbalik. Penumpang pun berhamburan. Iwan Wartawan Sumatera Ekspres, Mabius dari Palembang Pos, dan yang lainnya pun terlempar ke sungai. Helm dan pelampung membuat ekspedisi arung jeram ini tak memakan korban.
Padahal, kekhawatiran sempaat merebak ketika tim ekspedisi dilepas dari Desa Tanjungraya, Lintang Kanan, Kabuputen Empat Lawang.
Sepanjang jalur itu, sedikitnya terdapat 13 arung jeram yang cukup deras. Mengarah ke batu dan membuat perahu jumping.
Agaknya, memang ekspedisi ini yang digagas Tavern Artwork bersama Pemerintah Empat Lawang memberikan inspirasi bagi terselanggaranya wisata sungai di Musi Ulu. Apalagi, jalur ini memang memberikan prospek yang baik.
Kendala bagi daerah ini, belum adanya Badan atau Dinas tersendiri yang mengurus soal pariwisata. ”Kedepan, kami akan pertimbangkan untuk membentuk Dinas Pariwisata,”: ujar Bupati.
Pemandangan sepanjang aliran sungai juga memberikan nuansa tersendiri. Selain bebukitan, juga tebing-tebing terjal bisa dijadikan objek panjat tebing. Belum lagi beberapa muara anak sungai dengan bebatuan menghitam dan ukuran yang cukup besar memberikan pandangan indah tersendiri.
Suasana angker yang selama ini dipercaya masyarakat cukup memberikan kesan dan tantangan sendiri.Paling tidak, percaya ataupun tidak percaya memang untuk menikmati arung jeram di jalur ini harus dimulai dengan ritual berdoa dan tidak boleh sombong dan angkuh.
Banyaknya pantangan dan peringatan-peringatan yang berbau misteri memang tetap harus dipegang dan dipercaya. Apalagi, dengan arusnya yang tenang di beberapa titik sehingga membuat peserta arus jeram harus menguras energi mendayung perahu memang membuat energi tersedot dan terkuras. Jarak 29km yang kalau menggunakan mobil bisa ditempuh hanya 2 jam, dengan perahu karet memakan waktu 6 jam.
Jika di sepanjang aliran sungai, terutama di beberapa titik lebih ditata tentu bisa memberikan nuansa tersendiri. Batu-batu raksasa dan dinding sungai yang bergua, bisa memberikan ciri khas tersendiri.
Berminat menikmati arung jeram di bagian ulu Sungai Musi, bisa menempuh perjalanan sekitar 8 jam dari Palembang menuju Tebingtinggi. (sh/muhamad nasir)
Selasa, 10 Maret 2009
Wisata air terjun di Empat Lawang
Air terjun tujuh panggung di Desa Tanjungalam, Lintang Kanan, Kabupaten Empat Lawang.
Objek Wisata di Empat Lawang
Air Terjun Tujuh Panggung, Objek Wisata Menantang
Tujuan wisata di wilayah Sumsel ternyata tidak hanya berupa objek yang sudah dikenal dan diketahui umum. Tetapi ada juga berupa objek yang masih belum digarap dan masih ‘perawan’ berada di lokasi yang tersembunyi. Salah satunya, air terjun tujuh panggung di Desa Tanjungalam, Lintang Kanan, Kabupaten Empat Lawang.
Sebagai daerah pemekaran dari Kabupaten Lahat, Kabupaten Empat Lawang memang memiliki tidak sedikit objek wisata yang selain memberikan keindahan juga sedikit tantangan.
Di lokasi di atas Deretan Bukit Barisan yang terletak di atas 1.200 meter diatas permukaan laut (DPL), lokasi air terjun tujuh panggung memang memberikan nuansa segar alam pegunungan. Alam yang masih belum tersentuh ini terletak di antara kebun-kebun warga dan hutan yang masih ‘perawan’.
Air terjun di panggung ketiga cukup sulit didaki. Namun, warga sekitar sudah sering menikmatinya.
Untuk mencapainya, harus rela berjalan kaki selama sekitar 3 jam dari desa terdekat, Desa Tanjungalam. Kalau mau naik ojek, sebenarnya ada, tetapi hanya separoh jalan. Selebihnya tetap harus berjalan kaki meniti jalan setpak di lereng bukit yang terjal dan licin berlumut.
Sinar Harapan yang mengikuti ekspedisi Musi Ulu pekan lalu mendapati ternyata akses ke air terjun di panggung (tingkat ke tujuh) ternyata belum tersedia akses. Bersama warga desa, tim ekspedisi ini membuka akses jalan.
Kepala Desa Tanjungalam, Jon Kenedi mengakui selama ini keindahan air terjun ini haya dinikmati warga desanya. Itupun terbatas yang punya kebun di sekitarnya.
Karena memang, akses jalan masih berupa jalan setapak yang harus melewati bukit terjal dan hutan rimbun. Itupun baru sampai ke panggung ke dua. Selanjutnya masih berupa jalan melintasi semak belukar.
Disinilah panggung pertama. Air yang jernih dan gemericik air mengundang pengunjung untuk berendam. wah, brrrrr dingin ya...
Air terjun di panggung pertama terdiri dari enam deretan air mancur yang masing-masing setinggi sekitar 2 meter dan dibawahnya ada lubuk sedalam sekitar 3-4 meter dengan luas sekitar 4 x5 meter. Air yang jernih dan dingin membuat keinginan berendam tak tertahankan.
Sementara di panggung kedua hingga ketujuh juga memberikan nuansa yang berbeda. Karena ketinggian masing-masing air terjun memang berbeda. Berkisar antara 5 hingga meter 14 meter. Di panggung ketujuh, malahan terdapat dua sumber air yang mengucur ke lubuk di bawahnya. Hanya saja di panggung ini, sepertinya memberikan kesan angker karena ada pusaran air yang cukup kuat.
Di atasnya lagi, sesungguhnya masih ada dua panggung air terjun. Namun, belum ada satupun orang yang berani menapakinya, karena memang jalan menuju ke sana cukup terjal. Tebing bebauannya mencapai 45 derajat. Selain curam, juga berlumut sehingga sulit didaki.
Nuansa alami yang liar ini memang cukup memberikan kesan tersendiri bagi mereka yang punya minat menikmati wisata alam. Hanya saja, untuk mencapai lokasi ini dari kota Palembang, cukup jauh. Jarak Palembang ke Tebing tinggi ditempu dalam waktu 7 jam menggunakan mobil ataupun kereta api.
Saat ekspedisi, suasana lebih meriah karena diramaikan oleh para pemburu babi. Ketua Persatuan Olahraga Berburu Babi (Porbi) Sumsel Hamlian membawa serta sedikitnya seratus pemburu lengkap dengan anjing. Hasilnya, 14 ekor babi hutan berhasil ditangkap dalam sehari dari kawasan perkebunan dan ladang masyarakat setempat.
Rombongan pemburu babi dari Pagaralam meramaikan ekspedisi Musi Ulu ke Air terjun Tujuh Panggung.
Kereta api, tersedia dua jadwal, siang dan malam. Kalau memilih kelas ekonomi bisa berangkat siang hari dari Stasiun Kertapati, Palembang tujuan Lubuklinggau. Atau jika memilih kelas bisnis dan eksekutif berangkat malam hari. Jika berangkat dari Kertapati pukul 21.00 WIB, tiba di Stasiun Tebing tinggi sekitar pukul 04.00 WIB.
Sementara kalau memilih menggunakan mobil bisa menumpang bus ataupun travel. Ongkosnya berbeda sesuai dengan kelasnya. Dari Tebingtinggi menuju lokasi desa terdekat bisa ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam. Kendaraan angkot bisa disewa untuk mencapai kawasan ini. Jadi untuk menikmati air terjun ini, dari Palembang membutuhkan waktu 3 hari termasuk perjalanan Tebingtinggi-Palembang.
Akses menuju lokasi aor terjun hanya berupa jalan setapak. Bahkan, jalan ini baru dibuat oleh warga. Kalau tidak hati-hati, bisa berbahaya. Jurang yang curam dan berbatu menanti, merupakan tantangan tersendiri.
Kelelahan menempuh perjalanan dari Desa Tanjungalam ke lokais air terjun rasanya terbayar ketika sudah menikmati kesegerdan sawah alam di air terjun. Sepanjang jalan desa dan jalan setapak, ladang, sawah serta gemericik air sungai menemani dan menambah nikmat perjalanan wisata.
Usai menikmati air terjun, dua sumber air panas yang berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan kaki juga bisa melengkapi perjalanan wisata alam ini.
Kendala minimnya akses menuju lokasi wisata ini diakui Bupati Empat Lawang, Budi Antoni Aljufri. ”Memang kami akan kembangkan konsep wisata alam yang komplit. Termasuk akan menyediakan akses jalan yang memadai menuju lokasi dari desa terdekat,” ujarnya usai melepas ekspedisi Musi Ulu. Ekspedisi ini selain menembus lokasi air terjun Tujuh Panggung, juga menjajal arung jeram di Sungai Musi Ulu.
Rombongan ekspedisi Musi Ulu dilepas Bupati Empat Lawang, Budi Antoni Aljufri di Pendopoan.
Target awal, bukanlah wisatawan mancanegara. Tetapi wisatawan lokal yang berasal dari Sumsel dan Tebingtinggi. Sesaat setelah dibuka akses saja, puluhan anak-anak sekolah sudah bisa menikmati nuansa alami air terjun tujuh panggung di Bukit Barisan ini.
Ketua Pelaksana tim ekspedisi dari Tavern Artwork, Herna mengakui ekspedisi ini dilakukan mencari objek wisata yang nantinya bisa dikembangkan sebagai kawasan wisata pilihan. Mau wisata yang alami dan perawan dan masih liar, mungkin objek ini bisa menjadi pilihan. (sh/muhamad nasir)
Di depan penopoan Bupati pun, pemandangan kota Tebingtinggi dengan latar belakang Bukit Barisan cukup menggoda.
Selasa, 03 Maret 2009
Wisata Danau Ranau
Danau Ranau
Wisata yang Masih Menjadi Misteri
Oleh
Muhamad Nasir
PALEMBANG - Keindahan Danau Ranau tak terbantahkan lagi. Namun, letaknya yang jauh dari pusat kota, Palembang, membuat objek wisata ini ibarat “misteri”.
Keindahannya tersaput kabut. Oleh karena itu, meskipun indah, wisatawan yang berkunjung ke sini masih bisa dihitung dengan jari.
Sama seperti awal terbentuknya danau itu yang dilingkungi misteri. Kendati secara ilmiah terbentuk melalui sebuah proses alam, masyarakat setempat percaya ada misteri yang melatarbelakangi terciptanya danau ini.
Mencapai lokasi ini, selain dari Palembang, juga bisa dijangkau dari Provinsi Lampung. Danau Ranau merupakan danau terbesar dan terindah di Sumatera Selatan yang terletak di Kecamatan Banding Agung, Kabupaten OKU Selatan (dahulu masuk dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu). Berjarak sekitar 342 kilometer (km) dari Kota Palembang, 130 km dari Kota Baturaja, dan 50 km dari Muara Dua, ibu kota OKU Selatan, dengan jarak tempuh dengan mobil sekitar tujuh jam dari Kota Palembang. Sementara itu, dari Bandar Lampung, danau ini bisa ditempuh melalui Bukit Kemuning dan Liwa.
Secara geografis, danau ini terletak di perbatasan Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung Danau Ranau yang mempunyai luas sekitar 8×16 km dengan latar belakang Gunung Seminung (ketinggian ± 1.880 meter dpl), dikelilingi oleh bukit dan lembah. Pada malam hari, udara sejuk dan pada siang hari cerah suhu berkisar antara 20°-26° Celsius. Terletak pada posisi 4°51’45” Bujur Selatan dan 103°55’50” Bujur Timur.
Secara teori, danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar. Sungai besar yang sebelumnya mengalir di kaki gunung berapi itu kemudian menjadi sumber air utama yang mengisi cekungan itu.
Lama-kelamaan, lubang besar itu penuh dengan air. Kemudian, di sekeliling danau baru itu, mulai ditumbuhi berbagai tanaman, di antaranya tumbuhan semak yang oleh warga setempat disebut ranau. Oleh karena itu, danau itu pun dinamakanl Danau Ranau. Sisa gunung api itu kini menjadi Gunung Seminung yang berdiri kokoh di tepi danau berair jernih tersebut.
Pada sisi lain di kaki Gunung Seminung, terdapat sumber air panas alam yang keluar dari dasar danau. Di sekitar danau ini juga dapat ditemui Air Terjun Subik. Tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Pulau Marisa yang terletak tidak jauh dari air panas.
Meskipun secara teori ilmiah diyakini danau ini terjadi akibat gempa tektonik, seperti Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Maninjau di Sumbar, sebagian besar masyarakat sekitar masih percaya danau ini berasal dari pohon ara. Konon, di tengah daerah yang kini menjadi danau itu, tumbuh pohon ara yang sangat besar berwarna hitam.
Masyarakat dari berbagai daerah, seperti Ogan, Krui, Libahhaji, Muaradua, dan Komering berkumpul di sekeliling pohon. Mereka mendapat kabar, jika ingin mendapatkan air, harus menebang pohon ara tersebut.
Persis saat akan menebang pohon, mereka bingung bagaimana cara memotongnya. Ketika itulah, muncul burung di puncak pohon yang mengatakan untuk memotong pohon harus membuat alat mirip kaki manusia. Akhirnya, pohon ara pun tumbang. Dari lubang bekas pohon ara itulah keluar air dan akhirnya meluas hingga membentuk danau. Sementara itu, pohon ara yang melintang membentuk Gunung Seminung.
Kondisi ini membuat jin yang tinggal di Gunung Pesagi meludah hingga membuat air panas di dekat Danau Ranau. Serpihan batu dan tanah akibat tumbangnya pohon ara menjadi bukit yang ada di sekeliling danau.
Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat
Di samping itu, masih di sisi Danau Ranau, tepatnya di Pekon Sukabanjar, berseberangan dengan Lombok, terdapat kuburan yang diyakini masyarakat sebagai makam Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Makam keduanya terletak di kebun warga Sukabanjar bernama Maimunah. Untuk menuju ke lokasi, selain naik perahu motor dari Lombok, bisa juga dengan berkendaraan.
Menurut juru kunci kuburan, H Haskia, di sini terdapat dua buah batu besar. Satu batu telungkup yang diyakini sebagai makamnya Si Pahit Lidah dan satu batu berdiri sebagai makamnya Si Mata Empat. Si Pahit Lidah yang oleh masyarakat disebut sebagai Serunting Sakti berasal dari Kerajaan Majapahit. Karena nakal, raja mengusir Si Pahit Lidah yang bernama asli Raden Sukma Jati ini ke Sumatera. Si Pahit Lidah pun menetap di Bengkulu, Pagaralam, dan Lampung.

Si Pahit Lidah memiliki kelebihan. Apa pun yang dikemukakannya terkabul menjadi batu. Akibatnya, Si Mata Empat yang berasal dari India mencarinya hingga bertemu di Lampung, tepatnya di Way Mengaku. Di sini keduanya saling mengaku nama. Lalu, keduanya beradu ketangguhan, di antaranya memakan buah yang bentuknya seperti aren. Ternyata buah aren itu pantangan bagi Si Pahit Lidah sehingga akhirnya dia tewas. Si Mata Empat yang mengetahui lawannya tewas tidak percaya dan mencoba menjilat lidahnya agar ilmunya bisa diserap. Akhirnya, dia pun tewas.
Begitulah Danau Ranau. Objek wisata yang sebenarnya menjanjikan. Sayangnya, hingga kini wisatawan masih belum banyak yang menikmatinya. n
Copyright © Sinar Harapan 2008
Dimuat di Harian Sore Sinar Harapan edisi 2 Maret 2009 halaman wisata.
dkutip dari http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/02/wis01.html
Selasa, 09 Desember 2008
Musi Wisata, Visit Musi 2008
Wisata
Musi Menunggu Wisatawan
Oleh
Muhamad Nasir
PALEMBANG - Sungai Musi bagi warga Palembang merupakan salah satu land-mark. Keindahan dan objek yang tersedia alami dan membawa pengunjungnya ke wisata nature, kembali ke alam.
Julukan Palembang dengan “Sungai Musi, Venesia dari Timur” pun sudah tak asing lagi.
Keindahan Musi juga dijadikan inspirasi lagu berjudul “Sebiduk di Sungai Musi”. Lagu ini menggambarkan pesona sungai yang membelah Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) ini.
Atau bacalah kembali novel Dian Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisyahbana, di sana ada juga kisah tentang keelokan sungai ini.
Sungai dengan panjang 460 kilometer dan lebar rata-rata 300 meter itu, memang menjanjikan nuansa tersendiri. Makanya tak salah kalau dijadikan salah satu alternatif untuk dikunjungi wisatawan.
Menikmati suasana Sungai Musi bisa dengan berbagai cara. Pertama, lewat darat atau kedua, langsung “mencebur” ke Sungai Musi menggunakan perahu ketek atau kapal pesiar. Yang pertama, bisa lewat Jembatan Ampera.
Dari atas Jembatan Ampera yang dibangun dengan biaya pampasan perang Jepang, rumah rakit, dan aktivitas keseharian warga Palembang di Sungai Musi bisa dinikmati dengan gratis.
Akan lebih eksotik kalau malam hari. Sungai Musi yang bertabur lampu dari rumah rakit yang berjajar di sepanjang tepi sungai yang tak berpantai, memberikan ketenangan tersendiri. Begitu pun terangnya lampu di Jembatan Ampera.
Orang-orang memancing ikan juaro dari Jembatan Ampera juga menjadi pemandangan tersendiri. Atau, kita pun bisa ikut memancing dari jembatan itu. Hingga pukul 23.00 WIB, suasana malam hari di Jembatan Ampera masih bisa dinikmati.
Bisa pula kita menikmati keindahan Jembatan Ampera dari kawasan Benteng Kuto Besak (BKB). Kawasan ini berupa lapangan terbuka dengan dermaga bagi kapal maupun perahu. Kalau siang hari, bisa dijadikan tempat menikmati suasana lalu lintas dan kesibukan warga Palembang di atas air Musi. Pun malam hari, bersama pengunjung lainnya, bisa memandang Jembatan Ampera.
Restoran Terapung
Kalau perut sudah lapar, kita juga bisa menikmati deburan ombak Sungai Musi dari atas warung makan. Namanya, Warung Legenda.
Kalau dulu berada di seberang ulu dekat eks terminal 7 Ulu, kini sudah dialihkan ke sebelah ilir (di bawah Jembatan Ampera dekat dermaga), dengan menu masakan khas Palembang, seperti pindang patin, berengkes ikan, atau udang bakar. Setidaknya ada lima pondok terapung.
Usai mengisi perut, di seputar Ampera ada empat objek wisata yang bisa dikunjungi, yakni Benteng Kuto Besak yang dulu jadi benteng pertahanan Kesultanan Palembang Darusalam yang menurut cerita dibangun menggunakan putih telur.
Dan kini di dalamnya ada Rumah Sakit AK Gani, pahlawan Palembang yang tahun ini dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Ada pula museum peninggalan Kesultanan Palembang Darusalam, yang dulunya Istana Sultan Mahmud Badaruddin (SMB).
Dan di belakangnya, ada Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera). Bagi umat Muslim, objek wisata religius juga tersedia, yakni Mesjid Agung yang dibangun zaman Kesultanan Palembang Darusalam. Oleh mantan Presiden Megawati Soekarnoputri ditetapkan sebagai Masjid Nasional.
Cara kedua adalah lewat Sungai Musi dengan perahu ketek, perahu yang dilengkapi mesin. Suaranya memang ketek-ketek sehingga disebut perahu ketek.
Bisa juga dengan menumpang kapal wisata. Ada dua kapal wisata berukuran besar, yakni Sigentar Alam dan Putri Kembang Dadar. Selain itu, masih ada perahu jukung yang cukup besar.
Kalau memakai perahu ketek, dengan uang Rp 50.000 sudah bisa menikmati satu kali jalan wisata Musi untuk 2-4 orang. Sementara dengan kapal wisata atau kapal jukung, tarifnya Rp 50.000 hingga Rp 70.000 per orang, dengan fasilitas karaoke dan makan siang atau makan malam plus kudapan.
Objek yang dilintasi biasanya memakan waktu sekitar dua jam di atas Musi. Dengan melihat objek-objek dari atas kapal, seperti Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), di sepanjang perjalanan rumah-rumah rakit terlihat, plus pabrik-parik karet.
Lalu memutar dan menuju ke arah Pulau Kemaro. Selain rumah rakit, akan ada perumahan kapitan, tempat permukiman pecinan yang kini sedang direhab.
Tak jauh dari Jembatan Ampera ada Dermaga Boombaru, pabrik Pupuk Sriwijaya, dan terakhir Pulau Kemaro. Di pulau ini terdapat Kelenteng Hok Ceng Bio yang selalu ramai saat peringatan Cap Gomeh, puncak perayaan Tahun Baru Imlek.
Nuansa Musi sesungguhnya barulah sebagian objek wisata yang bisa dikunjungi di Sumsel karena masih ada rangkaian objek lainnya.
Untuk meginap, hotel berbintang dan melati juga tidak menjadi masalah. Hanya saja, jumlah pemandu wisata masih terbatas. Saat ini, menurut Ketua Perhimpuan Hotel dan Restoran Susmel (PHRI) Iwan Setiawan, baru ada sekitar 80 orang.
Idealnya, padahal 250 orang. Terlebih menyambut “Visit Musi 2008 mendatang”, tentunya harus ada perhatian khusus untuk menyediakan pemandu yang memadai. n
Sinar Harapan edisi, Kamis, 15 November 2007
Musi Menunggu Wisatawan
Oleh
Muhamad Nasir
PALEMBANG - Sungai Musi bagi warga Palembang merupakan salah satu land-mark. Keindahan dan objek yang tersedia alami dan membawa pengunjungnya ke wisata nature, kembali ke alam.
Julukan Palembang dengan “Sungai Musi, Venesia dari Timur” pun sudah tak asing lagi.
Keindahan Musi juga dijadikan inspirasi lagu berjudul “Sebiduk di Sungai Musi”. Lagu ini menggambarkan pesona sungai yang membelah Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) ini.
Atau bacalah kembali novel Dian Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisyahbana, di sana ada juga kisah tentang keelokan sungai ini.
Sungai dengan panjang 460 kilometer dan lebar rata-rata 300 meter itu, memang menjanjikan nuansa tersendiri. Makanya tak salah kalau dijadikan salah satu alternatif untuk dikunjungi wisatawan.
Menikmati suasana Sungai Musi bisa dengan berbagai cara. Pertama, lewat darat atau kedua, langsung “mencebur” ke Sungai Musi menggunakan perahu ketek atau kapal pesiar. Yang pertama, bisa lewat Jembatan Ampera.
Dari atas Jembatan Ampera yang dibangun dengan biaya pampasan perang Jepang, rumah rakit, dan aktivitas keseharian warga Palembang di Sungai Musi bisa dinikmati dengan gratis.
Akan lebih eksotik kalau malam hari. Sungai Musi yang bertabur lampu dari rumah rakit yang berjajar di sepanjang tepi sungai yang tak berpantai, memberikan ketenangan tersendiri. Begitu pun terangnya lampu di Jembatan Ampera.
Orang-orang memancing ikan juaro dari Jembatan Ampera juga menjadi pemandangan tersendiri. Atau, kita pun bisa ikut memancing dari jembatan itu. Hingga pukul 23.00 WIB, suasana malam hari di Jembatan Ampera masih bisa dinikmati.
Bisa pula kita menikmati keindahan Jembatan Ampera dari kawasan Benteng Kuto Besak (BKB). Kawasan ini berupa lapangan terbuka dengan dermaga bagi kapal maupun perahu. Kalau siang hari, bisa dijadikan tempat menikmati suasana lalu lintas dan kesibukan warga Palembang di atas air Musi. Pun malam hari, bersama pengunjung lainnya, bisa memandang Jembatan Ampera.
Restoran Terapung
Kalau perut sudah lapar, kita juga bisa menikmati deburan ombak Sungai Musi dari atas warung makan. Namanya, Warung Legenda.
Kalau dulu berada di seberang ulu dekat eks terminal 7 Ulu, kini sudah dialihkan ke sebelah ilir (di bawah Jembatan Ampera dekat dermaga), dengan menu masakan khas Palembang, seperti pindang patin, berengkes ikan, atau udang bakar. Setidaknya ada lima pondok terapung.
Usai mengisi perut, di seputar Ampera ada empat objek wisata yang bisa dikunjungi, yakni Benteng Kuto Besak yang dulu jadi benteng pertahanan Kesultanan Palembang Darusalam yang menurut cerita dibangun menggunakan putih telur.
Dan kini di dalamnya ada Rumah Sakit AK Gani, pahlawan Palembang yang tahun ini dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Ada pula museum peninggalan Kesultanan Palembang Darusalam, yang dulunya Istana Sultan Mahmud Badaruddin (SMB).
Dan di belakangnya, ada Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera). Bagi umat Muslim, objek wisata religius juga tersedia, yakni Mesjid Agung yang dibangun zaman Kesultanan Palembang Darusalam. Oleh mantan Presiden Megawati Soekarnoputri ditetapkan sebagai Masjid Nasional.
Cara kedua adalah lewat Sungai Musi dengan perahu ketek, perahu yang dilengkapi mesin. Suaranya memang ketek-ketek sehingga disebut perahu ketek.
Bisa juga dengan menumpang kapal wisata. Ada dua kapal wisata berukuran besar, yakni Sigentar Alam dan Putri Kembang Dadar. Selain itu, masih ada perahu jukung yang cukup besar.
Kalau memakai perahu ketek, dengan uang Rp 50.000 sudah bisa menikmati satu kali jalan wisata Musi untuk 2-4 orang. Sementara dengan kapal wisata atau kapal jukung, tarifnya Rp 50.000 hingga Rp 70.000 per orang, dengan fasilitas karaoke dan makan siang atau makan malam plus kudapan.
Objek yang dilintasi biasanya memakan waktu sekitar dua jam di atas Musi. Dengan melihat objek-objek dari atas kapal, seperti Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), di sepanjang perjalanan rumah-rumah rakit terlihat, plus pabrik-parik karet.
Lalu memutar dan menuju ke arah Pulau Kemaro. Selain rumah rakit, akan ada perumahan kapitan, tempat permukiman pecinan yang kini sedang direhab.
Tak jauh dari Jembatan Ampera ada Dermaga Boombaru, pabrik Pupuk Sriwijaya, dan terakhir Pulau Kemaro. Di pulau ini terdapat Kelenteng Hok Ceng Bio yang selalu ramai saat peringatan Cap Gomeh, puncak perayaan Tahun Baru Imlek.
Nuansa Musi sesungguhnya barulah sebagian objek wisata yang bisa dikunjungi di Sumsel karena masih ada rangkaian objek lainnya.
Untuk meginap, hotel berbintang dan melati juga tidak menjadi masalah. Hanya saja, jumlah pemandu wisata masih terbatas. Saat ini, menurut Ketua Perhimpuan Hotel dan Restoran Susmel (PHRI) Iwan Setiawan, baru ada sekitar 80 orang.
Idealnya, padahal 250 orang. Terlebih menyambut “Visit Musi 2008 mendatang”, tentunya harus ada perhatian khusus untuk menyediakan pemandu yang memadai. n
Sinar Harapan edisi, Kamis, 15 November 2007
Langganan:
Postingan (Atom)