Jumat, 23 Desember 2011

Kamis, 04 November 2010

Penghargaan untuk 27 Maestro Seni Tradisi

Sinar Harapan, Rabu, 02 Januari 2008



Jakarta - Suaranya masih saja tinggi di usianya yang ke-83 tahun ini. Sambil bernyanyi, tangannya tidak henti bergoyang, diikuti gerak tubuh yang tidak lagi terlalu lincah. Giginya yang nyaris habis membuat syair lagu yang keluar dari mulutnya tidak jelas lagi. Namun, Encim Masnah, penyanyi gambang kromong itu, masih memiliki semangat tinggi untuk meneruskan seni tradisi warisan nenek moyangnya.
Di kelompok orkes gambang kromongnya, hanya ada dua penyanyi, Encim Masnah dan Yuliana yang usianya jauh lebih muda. “Kagak ada (penyanyi lain), cuma bedua, yang tadi itu anak buah saya,” kata Encim Masnah dengan logat Betawi yang kental, ketika berpentas dalam konferensi pers pemberian penghargaan kepada maestro seni tradisi di Hotel Millenium, Jakarta, Jumat (28/12).
Seperti Encim Hasnah, usia pewaris seni tradisi kita memang tidak lagi muda. “Kita betul-betul berpacu dengan waktu,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Nilai Budaya, Seni, dan Film Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang hadir dalam konferensi pers itu.
Itu sebabnya, bekerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) yang diketuai oleh Pudentia MPSS, mulai tahun ini Dirjen Nilai Budaya, Seni, dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata memberikan penghargaan kepada para pewaris tradisi tersebut, termasuk Encim Hasnah yang kini tinggal di Tangerang, Banten.
Selain Encim Hasnah, ada 26 maestro seni tradisi lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia, mereka adalah Abdullah Abdul Rahman (maestro tari, Nangroe Aceh Darussalam), Ismail Saroeng (serunai, Nangroe Aceh Darussalam), Alistar Nainggolan (musik tradisi Batak, Sumatera Utara), Zulkaidah Boru Harahap (opera Batak, Sumatera Utara), Ibrahim Ahmad (wayang bangsawan, Kepulauan Riau), M Ali Ahmad (pantun, Kepulauan Riau), Sawir St Sati (syair dan musik, Sumatera Barat), Islamidar (sampelong, Sumatera Barat), Sahilin (pemantun gitar, Sumatera Selatan), Saidi Kamaludin (dulmuluk, Sumatera Selatan), Bodong (topeng Betawi, Jakarta), Surya Bonang (topeng Betawi, Jakarta), Dalang Taham (wayang Cirebon, Jawa Barat), Mimi Rasina (tari topeng, Jawa Barat), Tan Deseng (kecapi suling, Jawa Barat), Euik Muhtar (sinden dan rebab, Jawa Barat).
Ki Sugito Adiwarsito (wayang topeng pedalangan, Yogyakarta), Kandar (wayang krucil, Jawa Timur), Karimun (topeng Malang, Jawa Timur), I Made Sija (wayang arja, Bali), Amaq Raya (tari dan musik, Nusa Tenggara Barat), Jeremiah A Paah (sasando, Nusa Tenggara Timur), Bakhtiar Sanderta (wayang gung mamanda, Kalimantan Selatan), Serang Dakko (gendang, Sulawesi Selatan), Mak Coppang (tari pakkarena, Sulawesi Selatan), dan Sermalina Maniburi (tradisi munaba, Papua).
Para maestro itu berusia minimal 50 tahun dengan masa berkarya lebih dari 20 tahun di bidangnya masing-masing.

Pewarisan Tradisi
Penghargaan ini diberikan berupa uang sejumlah Rp 1 juta, dimulai pada Januari 2008 sampai dengan masa produktif untuk mewariskan tradisi ini habis. “Kita berharap dengan penghargaan ini, tahun demi tahun maestro yang kita miliki di daerah-daerah itu bisa mewariskan sedikit ilmunya kepada generasi muda,” kata Maukhlis lagi.
Menurut Pudentia, pewarisan itu dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan jalur formal dan informal. “Formalnya seperti Islamidar dan Sawir St Sati yang masuk ke dalam kurikulum STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padang Panjang.” Jalur informal dicontohkan oleh Ismail Saroeng dengan serunainya yang berpindah dari satu kedai ke kedai lain atau dari kampung ke kampung. “Di situlah terjadi transfer pengetahuan, ada yang tertarik, mencoba-coba, ternyata berbakat, kemudian tumbuhlah tradisi itu,” kata Pudentia melanjutkan.
Seni tradisi Indonesia berkaitan erat dengan personal. Seni itu ada di dalam jiwa masing-masing maestro yang jika mereka meninggal dunia, “meninggal” pulalah seni itu. Itu terjadi misalnya pada Sermalina Maniburi yang bertugas melakukan upacara kematian (munaba) bagi masyarakat Waropen, Papua.
Selain Sermalina, tidak ada lagi orang yang menguasai tradisi itu. “Kalau maestro itu hilang, khazanah tradisi itu juga hilang karena tradisi itu ada di dalam dirinya,” kata Pudentia menegaskan. Dan kita tidak ingin tradisi itu hilang, bukan? (mila novita)

Nasib Sastra Lisan Dikalahkan Biduan

Sinar Harapan, Selasa 25 Mei 2004

Oleh Muhamad Nasir

”Alangke lemak nasib biduan, kalu nyanyi dapat saweran. Alangke sedih nasib senjang, kalu manggung katek yang nyawer,” (Alangkah bagus nasib biduan kalau bernyanyi dapat saweran (uang). Alangkah menyedihkan nasib pembawa sendang, kalau manggung tidak ada yang nyawer).

Demikian gambaran nasib pembawa sastra tutur (lisan) tergambar dalam salah satu bait sendang (sastra tutur, cerita yang dibawakan dengan bernyanyi dalam bahasa daerah) yang disampaikan Majenuh dari Sekayu, Musi Banyuasin (Muba) dalam Festival Sastra Tutur Pesirah (FSTP) di Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI) Palembang, Sabtu (22/5).

Gambaran serupa disampaikan pembawa Nyanyi Panjang, sastra tutur dari Pedamaran Ogan Komering Ilir (OKI), Densi (70) yang mengaku sangat sedih dengan kondisi sastra tutur yang sangat tidak diminati lagi.

Kondisi sama terlihat saat pelaksanaan festival yang digagas Majelis Seniman Sumsel (MMS) bersama Komunitas Batanghari Sembilan (KObar 9) ini juga minim penonton. Termasuk para pejabat yang diundang. Beberapa instansi yang pejabatnya diundang untuk menghadiri festival tampak tak terlihat. ”Bersyukur, Kepala Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Pemprov) Sumsel, Johnson, hadir dan berkenan meresmikan pembukaan festival,” ujar Ketua MMS, Nurhayat Arief Permana.

Yang disayangkan dari beberapa instansi yang diundang tampak tak hadir. Sehingga, apa yang ingin disampaikan melalui festival ini dirasakan menjadi seolah hambar. ”Meski demikian, paling tidak, respons beberapa pelajar cukup baik terlihat mereka cukup antusias menyaksikan didampingi gurunya,” ujar Arif Permana.

Memang, gedung yang berkapasitas 500 orang itu, seperempatnya terisi. Sebagiannya lagi, anak-anak usia sekolah lengkap dengan seragamnya. Setidaknya, ini menunjukkan bahwa ada komunikasi yang terputus sebenarnya sehingga sastra lisan di daerah Sumsel yang sesungguhnya cukup potensial dikembangkan menjadi semakin terpinggirkan.

”Padahal, sesungguhnya sastra lisan layak digali, dilestarikan dan dikembangkan karena merupakan budaya khas Sumsel. Karenanya, sastra lisan sesungguhnya layak dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah,” ujar Ketua Pelaksana Festival, Vebri Al Lantini.

Konsep itu sesungguhnya mungkin layak dipertanyakan mengingat kondisi penutur sastra lisan itu sendiri yang sudah terbatas. Usia mereka berkisar 50 hingga 70 tahun. Dan kini, kehidupan keduanya, sastra lisan dan penuturnya, ibarat kerakap tumbuh di batu.

”Banyak orang tak minat lagi dengan nyanyi panjang yang penyampaiannya bisa memakan waktu empat jam bahkan hingga tiga hari tiga malam, kalau diperlukan,” ujar Densi, salah seorang penutur Nyanyi Panjang.

Lakon Raden Bangsu yang menceritakan kehidupan sebelum adanya dunia sejarah, di mana saat itu kehidupan dalam dunia antah-berantah yang disampaikan Densi memang cukup menarik. Tepuk tangan menggema di Auditorium RRI setelah lelaki renta yang sudah ompong itu menyampaikan cerita tentang keberhasilan Raden Bangsu yang akhirnya berhasil menyunting Si Manis Raso dari Negeri Embun.

Didampingi tiga pendayung perahunya, Sos Pipi Tuli, Bujang Sanngam, dan Wak Kelunyang, Raden Bangsu memang berhasil menyingkirkan semua rintangan. Semua disampaikan dengan irama mendayu-dayu diiringi ayakan beras.

Nuansa magis menyertai Nyanyi Panjang. Sehingga tak dipungkiri memang ada nuansa lain ketika dulu masyarakat dalam upacara menyambut kelahiran ataupun perkawinan, masyarakat setempat dipastikan menanggap Nyanyi Panjang.

Tapi, kini suasana telah berubah. Organ tunggal, orkes dengan goyangan biduan lebih menjadi pilihan. Akibatnya, Densi yang kelahiran tahun 1925 dan mendapatkan kemampuan Nyanyi Panjang dari orang tuanya, Sanawar yang telah meninggal sejak sepuluh tahun terakhir tak lagi mendapat order. ”Apa yang bisa diharapkan. Paling-paling setahun sekali atau dua kali mendapat order. Bahkan terkadang tidak sama sekali,” keluh Densi.

Densi sendiri mengaku mendapat keterampilan Nyanyi Panjang karena memang diturunkan orang tuanya. Saat itu, sejak anak-anak, sambil mengurut, orang tuanya menyampaikan cerita-cerita yang nantinya juga disampaikan kepada masyarakat. Lalu, saat orang tuanya meninggal, itu pun disambutnya (dialihkan) dengan menyatukan mulutnya dengan mulut almarhum.

”Karenanya, dulu kalau sudah mentas mesti ada syukuran. Harus ada beras hitam, ayam hitam, dan ada acara ritual,”aku Densi.

Kini, sudah lama dia tak melaksanakan lagi. Namun, kemampuannya masih tak berubah. Krena memang kemampuan itu seolah sudah menyatu dengan darah dan dagingnya.

Kini, orang yang menguasai sastra tutur sudah nyaris berkurang. Selaina karena dimakan usia, juga karena tak ada yang meminati lagi. Makanya, sastra tutur ini bukan tidak mungkin akan musnah kalau tak ada upaya serius.

Bukan hanya Densi yang merasakan itu. Tapi juga Manan yang fasih menyampaikan Jelihiman, atau Arman yang ahli menyampaikan geguritan. Termasuk Majenuh, sang pembawa senjang.

Banyak faktor memang yang membuat persoalan ini menjadi seperti sekarang ini. Menurut Anwar Putra Bayu, seorang seniman yang juga peneliti sastra lisan di Sumsel, tak ubahnya dongeng, sastra tutur di Sumsel memang mengalami ancaman serupa. Bakal tenggelam. Tradisi bercerita sudah tak mentradisi lagi. Orang tua sudah tak pandai dan tak mau bercerita. Media elektronik menjadi alternatif yang semakin menjauhkan sastra tutur dari kehidupan masyarakat. Anak-anak sudah sibuk oleh pelajaran. Penurunan kemampuan juga sudah tak menarik minat karena memang menerjuni lakon sebagai penutur apakah itu Nyanyi panjang, senjang, geguritan, atau jelihiman memang sudah tak prospektif lagi.

”Harus ada orang yang memberi perhatian. Siapa pun itu, kalau mau memberikan perhatian, entah eksekutif, atau para seniman sendiri, diharapkan bisa menghidupkan dan melestarikan kesenian yang tak dilirik lagi itu. Atau maungkin, justru sastra tutur itu diintegrasikan saja melalui media elektronik. Tapi apa ada yang mau?” tutur Anwar Putra Bayu.

Kini, memang pilihan masyarakat untuk lebih mengundang biduan pada setiap acara keramaian entah itu syukuran dapat anak, khitanan, atau perkawinan, tak bisa disalahkan begitu saja sebagai penyebab terancamnya sastra tutur. Karena bagaimanapun masyarakat punya alasan. Yang harus dicari sekarang ini adalah bagaimana caranya menghidupkan kesenian itu lagi.

Siapa yang bisa dan mau menjadi fasilitator maupun mediator untuk itu. Yang jelas, melalui festival seni tutur, diharapkan bisa memancing semangat untuk itu. Antusias sendiri sudah terlihat, paling tidak digambarkan Eka, siswa kelas II SMAN 9 Palembang dan Alen siswa kelas II SMA Tridarma Palembang yang merasa tertarik dengan penyajian pesastra tutur.

Penelitian pun setidaknya bisa dirahkan terhadap kehidupan sastra tutur. Apalagi, masih minim penelitian yang bisa dijadikan dasar pengambil keputusan. Apakah memang layak, misalnya kesenian tutur itu masuk kurikulum sekolah.

Cap Go Meh, Potong Kambing Hitam di Pulau Kemaro

Sinar Harapan, Jumat 22 Februari 2008

Oleh
Muhamad Nasir

Palembang - Puncak perayaan Imlek 2559 ditandai dengan perayaan Cap Go Meh yang diartikan sebagai awal permulaan membuka lembaran baru kehidupan dengan meminta keselamatan, kesehatan, kesejahteraan dan rezeki yang berlimpah.
Di Palembang, puncak ritual Cap Go Meh dilaksanakan di Pulau Kemaro yang merupakan sebuah delta di Sungai Musi, sekitar 5 km sebelah hilir Jembatan Ampera. Di pulau ini terdapat sebuah Kelenteng Hok Ceng Bio. Tepat pukul 00.00 WIB, nyala kembang api berpijaran menghiasi langit di atas Pulau Kemaro, ditingkahi bunyi dari delapan tambur yang dipukul bersahut-sahutan.
Pijaran kembang api itu menandai perayaan Cap Go Meh, momen terakhir penyambutan sin cia sekaligus peresmian pagoda Kelenteng Hok Tjing Bio oleh Gubernur Sumsel Ir Syahrial Oesman.
Sebelumnya, dipimpin pengurus Kelenteng Hok Tjing Bio menyembelih seekor kambing warna hitam di depan makam Buyut Fatimah. Setelah itu, 100 kambing lainnya hasil sumbangan umat juga turut disembelih. Perayaan Cap Go Meh ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya tradisional China, seperti barongsai, liong, wayang orang China, dan hadir pula kelompok tanjidor.
Dalam perayaan Cap Go Meh, ribuan masyarakat etnis China maupun pribumi termasuk yang datang dari berbagai kota bahkan dari luar negeri seperti Singapura dan Malaysia berkunjung ke Pulau Kemaro untuk melakukan sembahyang atau berziarah. Perayaan ini berlangsung selama dua hari.
Di Pulau Kemaro perayaan Cap Go Meh menggambarkan kegiatan peribadatan yang sekaligus juga merupakan “perkawinan” budaya yang sebenarnya. Selain barongsai dan liong yang meramaikan malam puncak Cap Go Meh - tahun ini jatuh pada pergantian hari dari tanggal 19 Februari ke 20 Februari di Pulau Kemaro hadir pula kelompok tanjidor dan penyembelihan kambing persembahan.
Nuansa peribadatan agama Buddha Tridharma dengan nuansa keislaman terasa begitu kentara di Pulau Kemaro. Bercampur aroma dan padatnya asap hio yang dibakar. Ini tidak lain karena dalam sejarahnya Pulau Kemaro memang ada hubungannya dengan kedua agama tersebut.
Terbersit dalam legenda kisah cinta Fatimah dengan suaminya Tan Po Han berabad-abad lalu. Oleh karena itulah, selain bersembahyang kepada Thien (Tuhan Yang Maha Esa), umat yang datang pun bersembahyang untuk Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), Buyut Fatimah, Dewi Kwan Im, Dewa Langit, Dewi Laut, dan juga penunggu Pulau Kemaro.
Selain garu/hio, serta perlengkapan peribadatan Tridharma lainnya yang banyak dibawa ke pulau itu, ada juga rangkaian bunga serta kambing yang dibawa masuk ke Pulau Kemaro. Syarat-syarat upacara memang beragam, seperti nasi kuning plus ayam panggang, nasi gemuk dan telur rebus, pisang dan beragam buah-buahan, serta opak dan jeruk purut. Di beberapa sudut kelenteng, syarat upacara memang tampak memenuhi areal berdampingan dengan hio dan lilin serta garu yang dibakar.
Karena suasana yang memang semarak inilah, saat puncak perayaan Cap Go Meh, Pulau Kemaro dikunjungi sekitar 20.000 hingga 30.000 umat dan pengunjung dari Sumsel dan luar Sumsel. Pengunjung dari Singapura, Jakarta, Sumatera Utara, Bengkulu, Lampung, Jambi, dan Bangka Belitung, terdaftar memadati perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro.
Dijadikannya Pulau Kemaro sebagai pusat kegiatan perayaan Cap Go Meh ketimbang sejumlah kelenteng dan wihara lainnya di Palembang, menurut informasi, karena selama ini mereka yang berdoa di Kelenteng Hok Ceng Bio banyak yang terkabul doanya. Selain berdoa kepada para leluhur, masyarakat Tionghoa yang datang ke sini pun ada yang meminta jodoh serta meminta sukses dalam bisnis dan karier.

Pinjam Angpau
Hal ini diakui seorang pengusaha Hermanto Wijaya yang juga Ketua Walubi Sumsel. “Saya dulunya juga meminjam angpau. Tetapi sekarang hanya sembahyang saja. Giliran mereka yang muda-muda meminjam angpau,” ujarnya.
”Terserah mau berapa pinjamnya. Bisa lima juta, 30 juta, atau berapa. Itu semuanya diwakili 10 angpau (uang logam yang dibungkus dengan kertas merah). Angpau tersebut kemudian dibawa pulang dan ditaruh di laci di rumah atau di kantor. Bila berhasil, tahun depan boleh membayarnya berapa saja, Rp 100.000, Rp 50.000, atau berapa saja. Kalau belum berhasil, tidak bayar juga tidak apa-apa,” tambah Chandra yang diiyakan Hermanto Wijaya.
Tampak memang beberapa umat memberikan imbalan berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 100.000 kepada petugas penuntun. Itu mungkin, mereka yang telah sukses usaha maupun kariernya atau telah menemukan jodoh.
Sementara itu, uang yang beredar di Pulau Kemaro bisa berkisar Rp 2 miliar. Sedangkan uang yang beredar di Sumsel selama perayaan Cap Go Meh bisa lebih dari itu.
Di hari-hari biasa, Pulau Kemaro akan kembali sepi. Tinggal nanti para panitia membersihkan sisa-sisa upacara. Akankah permohonan pengunjung dipenuhi Dewa, mungkin ukurannya adalah banyak tidaknya pengunjung Cap Go Meh tahun berikutnya. Ini karena mereka yang berhasil akan datang kembali mengembalikan uang yang dipinjamnya ataupun membawa anak-anak hasil perjodohannya yang dipercaya didapat setelah ke Pulau Kemaro, melaksanakan Cap Go Me

Bukit Siguntang, Makam yang Sarat Misteri

Sinar Harapan, 21 Februari 2008
Oleh
Muhamad Nasir

PALEMBANG-Kawasan Bukit Siguntang di Bukit Besar Palembang menyimpan misteri. Meski demikian, hal itu tak mengurungkan niat banyak orang untuk mengunjungi kawasan ini, yang ketinggiannya sekitar 27 meter di atas permukaan laut. Jika berada di atas bukit, kita memang bisa memandang sebagian Kota Palembang.
Tujuh makam tokoh yang terkenal dalam cerita rakyat yang sempat tersohor pada zaman Kesultanan Palembang ada di bukit ini. Ketujuh makam itu Makam Raja Sigentar Alam, Panglima Tuan Djundjungan, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Pangeran Raja Batu Api, Panglima Bagus Sekuning, dan Makam Panglima Bagus Karang.
Berdasarkan cerita legenda dan dongeng, setiap tokoh yang dimakamkan itu memiliki kharisma dan sejarah masing-masing. Kini, masing-masing makam yang berada di kaki bukit dan mengarah ke puncak bukit masih terawat baik. Bukit ini terletak di Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat (IB) I Palembang, Sumatera Selatan.
Sama halnya dengan jalan-jalan yang diabadikan dengan menggunakan nama tokoh-tokoh itu di dalam Kota Palembang. Hanya saja, sayangnya tak ada petunjuk khusus yang bisa didapatkan soal sejarah dan bagaimana keberadaan makam-makam itu. Di depan makam hanya tertulis nama tokoh, tanpa keterangan sedikit pun.
Dari juru kunci yang bertugas menjaga makam pun tak banyak diperoleh informasi. Misteri yang dibawa pengunjung sejak awal tak menguak misteri tersebut sepulangnya dari kunjungan ke Bukit Siguntang tersebut.
Sarkasih, salah seorang juru kunci, punya versi lain dibanding juru kunci lainnya mengenai keberadaan tokoh yang dimakamkan. Menurutnya, para tokoh itu berasal dari masa akhir Kerajaan Sriwijaya dari Mataram Hindu. Ada juga yang merupakan keturunan Majapahit. Sulaiman, juru kunci lainnya, menyatakan Panglima Bagus Sekuning dan Bagus Karang juga dimakamkan di bukit ini.
Versi lain menyatakan bahwa Panglima Bagus Kuning dimakamkan di kawasan Bagus Kuning, Plaju, Palembang. Di sini memang ditemukan juga bukti-bukti bekas makam. Namanya pun diabaikan sebagai kawasan Bagus Kuning. Banyak monyet berkeliaran di sekitar lokasi ini yang kemudian dibangun Lapangan Sepakbola, Patra Jaya.
Kondisi Bukit Siguntang sendiri, meski telah lama menjadi objek wisata, terlihat seperti tak terawat. Rumput liar memenuhi bukit, meski tangga batu masih terlihat utuh yang memudahkan pengunjung menuju ke masing-masing makam. Dengan karcis masuk Rp 2.000 saat hari libur, bukit ini justru dijadikan tempat pacaran bagi anak-anak muda. Oleh karenanya, misteri makam itu pun tak menjadi soal bagi mereka.
Hanya bagi pengunjung yang ingin berwisata sejarah atau bagi anak-anak sekolah yang dibawa gurunya ke lokasi ini, hal itu menjadi persoalan. Apalagi, menurut anak-anak, mereka umumnya tak mendapati sejarah para tokoh dalam buku pelajaran. Justru dari para juru kunci inilah mereka mendapat informasi keberadaan para tokoh tersebut, juga dari cerita dari mulut ke mulut. Itu pun dengan versi dan jalan cerita yang berbeda-beda.
Seorang peneliti Balai Arkeologi Palembang, Retno Purwanti, menjelaskan bahwa Bukit Siguntang sesungguhnya pernah menjadi pusat Kerajaan Palembang yang dipimpin Parameswara, seorang adipati Kerajaan Majapahit. Sekitar tahun 1511 Parameswara memisahkan diri dari Majapahit dan merantau ke Malaka.

Pusat Buddha
Sempat bentrok dengan Portugis, sang adipati kemudian menikah dengan putri penguasa Malaka dan menjadi raja. Keturunannya kemudian menjadi raja-raja Melayu yang berkuasa di Malaysia, Singapura, dan Sumatera.
Lalu sekitar tahun 1554 muncul Kerajaan Palembang yang dirintis Ki Gede Ingsuro, pelarian dari Pajang, Jawa Tengah. Bukit Siguntang ini dikeramatkan karena dua orang panglimanya yang gugur saat menunudukkan pasukan Kesultanan Banten yang menyerang Palembang, kemudian dimakamkan di bukit ini.
Karena itulah diyakini, bukit ini menjadi pusat studi keagamaan Buddha. Apalagi, berdasarkan informasi diketahui tahun 1920 ditemukan patung (arca) Buddha bergaya seni Amarawati yang merupakan raut wajah Srilangka dari abad XI Masehi dan sekarang ditempatkan di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II di samping Jembatan Ampera Palembang.
Lalu ada sejumlah peninggalan Kerajaan Dapunta Hyang Srijayanasa, kemudian kapal Sriwijaya dan prasasti Bukit Siguntang, yang bisa menjadi bukti penting tentang keberadaan Sriwijaya.
Oleh karenanya, tak heran kalau dipercaya dahulu pernah bermukim 1.000 pendeta Buddha di kawasan tersebut. Dan sekarang pun, pada waktu-waktu tertentu, bukit ini dijadikan tempat berdoa bagi para pendeta Buddha.
Untuk mencapai lokasi bukit misteri ini, Anda bisa menggunakan angkutan kota atau bus kota jurusan Bukit Besar, dengan ongkos Rp 2.000 sekali jalan. Sebut saja berhenti di Taman atau Bukit Siguntang, dijamin Anda bisa menemukan lokasinya.
Meski tak bisa menjamin akan mendapatkan jawaban atas misteri para tokoh yang dimakamkan di bukit ini, minimal Anda akan melihat bukti nyata bahwa para tokoh dalam cerita itu dan lokasi makam yang cantik, memang ada. n







Copyright © Sinar Harapan 200

Napak Tilas Peninggalan Jepang di Palembang

Sinar Harapan, Kamis 1 Maret 2007


Oleh
Muhamad Nasir

PALEMBANG–Penjajahan Jepang yang berlangsung selama 3,5 tahun telah meninggalkan kenangan buruk bagi rakyat Indonesia. Namun, bagi Sumatera Selatan, ternyata penjajahan tidak hanya meninggalkan kenangan pahit.

Negeri Matahari Terbit ternyata juga meninggalkan peluang pendapatan bagi Sumsel, berupa bekas bangunan yang bisa menjadi objek wisata.
Sayangnya, “pundi-pundi” ini belum maksimal digarap menjadi objek wisata sejarah. Sedikitnya, terdapat 15 bekas bangunan balatentara Jepang berserakan di berbagai lokasi di Kota Palembang. Naifnya, bekas-bekas bangunan ini pun ternyata tak begitu dikenal warga Palembang sendiri.
“Padahal, peninggalan ini kalau diurus dan dilestarikan, bukan tidak mungkin akan dapat dinikmati sebagai objek wisata,” kata seorang guru sejarah sekolah lanjutan pertama swasta dan pegawai Bagian Humas Pemerintah Kota Palembang Ahmad Bastari Suan, beberapa waktu lalu.
Berdasarkan pemantauan SH, bangunan-bangunan eks Jepang umumnya tidak terawat, meski terdapat di tengah kota atau di tengah lingkungan tempat tinggal warga. Setidaknya, ada 15 objek yang berpotensi untuk dikembangkan. Misalnya, rumah perlindungan di bawah tanah (bungker) di Jl Joko Kelurahan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang.
Selain itu ada juga terowongan di Jl Joko, tepatnya di belakang Aula Imanuel; Kompleks Pertahanan di Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus; dan pekuburan tentara Jepang di Talang Kerikil.
Selain itu, Kompleks Pertahanan Udara di Jl Sudirman, tepatnya di samping Rumah Sakit Kristen (RSK) Charitas; Kompleks Pertahanan di Jl AKBP H Umar, Kelurahan Ariokemuning; Kompleks Pertahanan Jepang di Jl Majapahit, Kelurahan 1 Ulu; Kompleks Pertahanan di Kelurahan 15 Ulu; Asrama Tentara di Tegal Binangun; Kompleks Pertahanan di Pulau Melati, Kelurahan Keramasan, Kertapati; Jalan Jepang di Kelurahan Karya Jaya; Kompleks Pertahanan di Jl Pertahanan, Plaju; Benteng Jepang di Lorong Sikam, Plaju; dan Kompleks Pertahanan Udara di Tegal Binangun, Plaju.
Tentang bunker di Jl Joko, Kelurahan Talang Semut, masyarakat sekitarnya tak menyadari kalau sesungguhnya bangunan yang tinggal menyisakan puing-puing ini dahulu menjadi basis pertahanan Jepang saat menghadapi musuh.
Saat ini bungker itu memang tidak lagi di dalam tanah karena tanah di daerah ini sudah diuruk. Namun masih terdapat sisa bangunan yang menurut masyarakat setempat dulunya dibangun oleh Belanda untuk menghadapi Jepang. Dinding bunker ini terbuat dari beton cor dengan ketebalan 0,25 m dan tinggi dinding 2,4 meter. Luas bangunan diperkirakan 17,8x8 meter, dan bentuknya masih terlihat sampai sekarang.
Di Jl Joko, tak jauh dari bungker, terdapat terowongan. Pintu masuk terowongan yang diperkirakan menuju bunker masih tersisa. Begitu pun terowongannya, masih ada. Namun yang mengukur seberapa jauh terowongan itu dan ke mana tembusnya. Namun demikian, terowongan berbentuk segi empat ini memiliki ukuran 3x2,7 meter, dengan pintu berukuran 2 x 1,2 meter. Diduga, terowongan ini cukup panjang dan berliku-liku, dan terlihat masih kuat. Namun karena gelap dan licin, tak jelas bagaimana kondisi di dalamnya.

Kompleks Pertahanan
Setidaknya ada sembilan kompleks pertahanan Jepang yang kini masih ada puingnya. Kompleks pertahanan di samping RSK Charitas terbuat dari beton cor dengan ketebalan 0,5 meter dan tinggi dinding 2 meter. Sementara itu, luas bangunannya adalah 32x15 meter. Lokasi bangunannya pun di daerah yang cukup tinggi.
Untuk mencapainya, terdapat tangga yang sudah terlihat menghitam. Di lokasi ini juga terdapat terowongan yang diperkirakan tembus ke pinggiran Sungai Musi. Tempat ini diperkirakan dipergunakan sebagai tempat untuk melarikan diri kalau kondisi sedang tidak memungkinkan untuk bertahan. Sementara itu, pada saat ini, kondisi terowongan itu sendiri tak memungkinkan untuk dimasuki.
Di sini masih terlihat bekas landasan meriam berukuran 5x4 meter. Luas areal seluruhnya sekitar satu hektare, terjepit areal RSK Charitas. Lokasi ini pun tampak tidak terawat. Selain rumput, terdapat juga semak-semak dan pohon pisang yang menjadi “penghias”.
Adapun tempat Pertahanan di Jl AKBP H Umar, puing-puingnya masih berdiri kokoh. Di areal seluas 4.710 m2 terlihat bekas bangunan dan terowongan yang sudah tak utuh lagi. Bangunan induk berupa bunker berukuran 20x20 meter, dan di pintu masuk terdapat terowongan berukuran 2x1,5 meter. Pintu gua inilah yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Gua Jepang.
Bangunan yang cukup menarik adalah bekas benteng yang terdapat di Lorong Sikam Darat, Plaju. Benteng Kembar berukuran 8 x 6 meter ini memang tidak utuh lagi. Namun, lokasi ini cukup menarik, apalagi bentuknya kokoh. Begitu juga bangunan berbentuk kawah telungkup di Jl Tegal Binangun, Lorong Perlindungan, Plaju. Adapun bangunan berdiameter 14 meter dengan tinggi puncak 3,5 meter dan dinding setebal 0,9 meter ini terlihat unik.
Tak jauh dari bangunan ini, terdapat juga kompleks yang diperkirakan pertahanan artileri. Bangunan dengan dinding beton setinggi 1,5 meter dan dikelilingi tiang-tiang beton itu terlihat cukup menyeramkan. Sementara itu, beberapa fondasi tapakan penangkis serangan udara juga terlihat masih utuh.
Markas tentara Jepang masih terlihat dari sisa-sisa bangunan, yang terdapat di Jl Tegal Binangun, yang dikenal juga dengan sebutan Jalan Jepang ini. Di sini, selain bekas bak mandi, terdapat juga bekas landasan meriam penangkis serangan udara.
Dunia wisata memang sedang lesu. Berbagai teror menghantui wisatawan. Menghadapi tahun 2008, bukan tidak mungkin ada angin segar yang membuat turis mancanegara melirik Sumatera Selatan. Setidaknya, wisatawan asal Jepang bisa dipancing dengan objek-objek peninggalan nenek moyang mereka. Atau paling tidak, para pelajar bisa diajak mengunjungi objek-objek ini untuk mendapatkan pelajaran secara langsung peninggalan penjajah yang pernah memeras negeri ini.
Murid-murid yang menuntut ilmu di sekolah dasar yang tak jauh dari eks pertahanan Jepang, ternyata tak banyak yang mengetahui kalau ada pelajaran berharga yang terdapat di sekitar sekolah mereka. “Kami dak tau Kak, kalu ado peninggalan Jepang di sini (kami tidak tahu Kak kalau ada peninggalan Jepang di sini-red),” ungkap seorang murid SD Km 5 Palembang ketika diajak melihat sisa-sisa bangunan bekas pertahanan Jepang, tak jauh dari sekolahnya. n

Bunker Jepang, Potensi Wisata Palembang

Palembang, Sinar Harapan

Sebagai penjajah selama 3,5 tahun, Jepang bagi Indonesia—khususnya Sumatera Selatan—ternyata tidak hanya meninggalkan kenangan pahit. Bangsa dari negeri matahari terbit ini ternyata meninggalkan juga peluang pendapatan bagi Sumsel. Peninggalan itu berupa bekas-bekas bangunan yang masih bersisa dan bisa menjadi objek wisata. Sayangnya, potensi wisata ini ternyata belum begitu digarap sehingga bisa menjadi salah satu objek wisata sejarah, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara, khususnya wisatawan Jepang.

Sedikitnya terdapat 15 bekas bangunan bekas balatentara Jepang yang berserakan di berbagai lokasi dalam wilayah Kota Palembang. Ironisnya, bekas-bekas bangunan ini pun ternyata tak begitu dikenal oleh warga Palembang.

Peninggalan Jepang ini kalau diurus dan dilestarikan akan memiliki potensi wisata yang dapat menjadi salah satu daya tarik Kota Palembang. ”Bukan tidak mungkin peninggalan itu dapat dinikmati sebagai objek wisata”, ujar seorang guru sejarah sekolah lanjutan pertama swasta dan juga pegawai Bagian Humas Pemerintah Kota Palembang, Ahmad Bastari Suan, beberapa waktu lalu.

Berdasarkan pemantauan SH, umumnya terkesan bangunan-bangunan eks Jepang itu tidak terawat dan terpelihara. Meski terdapat di tengah kota ataupun di tengah lingkungan warga, keberadaannya tak terusik. Disentuh tidak, dilirik tiada, apalagi dirawat.

Setidaknya, ada lima objek yang bisa dan pantas serta berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata. Ke-15 bekas peninggalan Jepang ini, seperti rumah perlindungan di bawah tanah (bungker) di Jalan Joko Kelurahan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang. Terowongan di Jalan Joko, tepatnya di belakang Aula Imanuel, Palembang. Kompleks Pertahanan di Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus. Pekuburan Perauan tentara jepang di Talang Kerikil.

Kompleks Pertahanan Udara di Jalan Sudirman, tepatnya di samping Rumah Sakit Kristen (RSK) Charitas. Kompleks Pertahanan di Jalan AKBP H Umar, Kelurahan Ariokemuning. Kompleks Pertahanan Jepang di jalan Majapahit, Kelurahan 1 Ulu. Kompleks Pertahanan di Kelurahan 15 Ulu. Asrama Tentara di Tegal Binangun. Kompleks Pertahanan di Pulau Melati, Kelurahan Keramasan, Kertapati. Jalan Jepang di Kelurahan Karya Jaya. Kompleks Pertahanan di Jalan Pertahanan, Plaju. Benteng Jepang di Lorong Sikam, Plaju. Dan kompleks Pertahanan udara di Tegal Binangun, Plaju. Rumah perlindungan di bawah tanah (bungker) di Jalan Joko, Kelurahan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, kini sudah di atas tanah.

Masyarakat sekitar tak menyadari kalau sesungguhnya bangunan yang memang tinggal menyisakan puing-puing ini dahulu pernah menjadi basis pertahanan Jepang saat menghadapi musuh. Saat ini, memang tidak lagi di dalam tanah. Tanah di daerah sini sudah diuruk.
Namun, masih terdapat sisa-sisa bangunan yang menurut cerita masyarakat di sekitar dulunya dibangun Belanda untuk menghadapi Jepang. Bangunan yang kemudian justru dimanfaatkan Jepang ini masih bertahan dari hujan dan panas. Dinding bungker ini terbuat dari beton cor dengan ketebalan 0,25 m dan tinggi dinding 2,4 meter. Luas bangunan diperkirakan 17,8 x 8 meter, masih terlihat bentuknya.

Terowongan
Di Jalan Joko, tak jauh dari bungker, terdapat terowongan. Pintu masuk terowongan yang diperkirakan menuju bungker masih tersisa. Begitupun terowongannya, masih ada.
Diperkirakan, terowongan ini cukup panjang dan berliku-liku. Kondisinya, terlihat masih kuat. Namun karena gelap dan licin, tak jelas bagaimana kondisi di dalamnya. Di Kompleks Pertahanan, setidaknya ada sembilan kompleks pertahanan Jepang yang kini masih ada puingnya. Yang kini di tengah kota, kompleks pertahanan yang terdapat di Jalan Jenderal Sudirman—tepatnya di samping RSK Charitas dan bersebarangan dengan Gedung Bank Indonesia Sumsel—dan di Jalan AKBP H Umar di Kelurahan Ario Kemuning atau tepatnya di belakang pasar Km 5 Palembang.

Kompleks pertahanan di samping Charitas, seluruhnya terbuat dari beton cor dengan ketebalan 05 meter. Dan tinggi dinding 2 meter. Luas bangunan 32 x 15 meter.
Lokasinya di daerah yang cukup tinggi. Dari Jalan Jenderal Sudirman, eks kompleks pertahanan ini sekitar 4 meter. Untuk mencapainya, terdapat tangga yang terlihat sudah menghitam.

Di lokasi ini juga terdapat terowongan yang diperkirakan tembus ke pinggiran Sungai Musi. Diperkirakan tempat melarikan diri kalau memang kondisinya tidak memungkinkan untuk bertahan. Namun, teorongan kondisinya sudah tak memungkinkan untuk dimasuki. Di sini masih terlihat bekas landasan meriam berukuran 5x4 meter. Luas areal seluruhnya sekitar 1 ha.

Terjepit areal RSK Charitas, lokasi ini tampak tidak terawat. Selain rumput, terdapat juga semak-semak dan pohon pisang menjadi ”penghias”. Benteng Pertahanan di Jalan AKBP H Umar, puing-puingnya masih berdiri kokoh. Di areal seluas 4.710 meter persegi terlihat bekas bangunan dan juga terowongan yang kondisinya sudah takutuh lagi. Bangunan induk berupa bungker berukuran 20 X20 meter. Di pintu masuknya, terdapat terowongan berukuran 2 x 1,5 meter.Pintu gua inilah yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Gua Jepang. Terowongan yang tadinnya berada dalam tanah, kini sudah di atas tanah. Rumah-rumah penduduk sudah mengepung areal ini. Di bagian atas terowongan terdapat bekas tempat meriam pengintai. Beberapa puluh meter dari bangunan induk terdapat dua bangunan berbentuk rumah di bawah tanah dengan luas 6 x 6 meter. Namun kini, bangunan ini juga sudah di atas tanah. Puing-puing kompleks pertahanan lainnya, terdapat di Jalan Demak Kelurahan 1 Ulu, Palembang. Di lokasi ini terdapat setidaknya bekas tujuh landasan meriam penangkis serangan udara. Masing-masing berdiamter 5,6 meter dengan ketinggian 1,15 meter, tetapi kondisinya kini sudah tak jelas lagi. Selain dikelilingi semak-semak, bangunannya juga sudah berlumut. Di daerah Jalan Majapahit, masih di Kelurahan 1 Ulu, terdapat juga bekas kompleks pertahanan Jepang. Di lokasi yang terdapat di dekat SDN 103 ini terdapat landasan tiang pemancar setinggi 0,3 meter dengan diameter 4,7 meter dan landasan antena berukuran 3 x 2,5 x 0,7 meter. Bekas landasan tiang pemancar yang diperkirakan sebagai kompleks pertahanan, juga terdapat di belakang SDN 43, masih di Jalan Majapahit, 1 Ulu. Sisanya landasan tiang pemancar berukuran 1,3 meter dan diameter 4,7 meter masih terlihat. Bekas kompleks pertahanan juga terdapat di Pulau Melati, Keramasan, Kertapati.

Yang cukup menarik, bekas benteng yang terdapat di Lorong Sikam Darat, Plaju. Benteng Kembar berukuran 8 x 6 meter memang tidak utuh lagi. Namun, lokasi ini cukup menarik apalagi sisa bangunannya menunjukkan bentuk yang kokoh dan kuat. Begitu juga dengan bangunan berbentuk kawah tertelungkup di kawasan Jalan tegal Binangun, Lorong Perlindungan, Plaju. Bangunan berdiameter 14 meter dengan tinggi puncak 3,5 meter dan dinding setebal 0,9 meter, terlihat cukup unik. Jalan pintas, yang kini disebut Jalan Jepang, masih digunakan masyarakat. Jalan yang dulu diperkirakan digunakan tentara Jepang menuju Pulau Melati sepanjang 5 km dengan luas 5 meter. Jalan ini menghubungkan Keramaan-Gandus melalui Pulau Melati. Napak tilas mungkin bisa dilakukan di jalan ini. Memang dunia wisata memang sedang lesu. Berbagai teror menghantui wisatawan. Namun, menghadapi tahun 2003, bukan tidak mungkin ada angin segar yang membuat wisatawan mancanegara melirik Sumatera Selatan. Setidaknya, wisatawan asal Jepang bisa dipancing dengan objek-objek peninggalan nenek moyang mereka.

Atau paling tidak, para pelajar bisa diajak mengunjungi objek-objek ini untuk memberikan pelajaran secara langsung peninggalan penjajah yang pernah memeras negeri ini. Murid-murid yang menuntut ilmu di sekolah dasar yang tak jauh dari eks pertahanan Jepang ternyata tak banyak yang mengetahui kalau ada pelajaran berharga yang terdapat di sekitar sekolah mereka.

Kami dak tau kak kalu ado peninggalan Jepang di sini,” (kami tidak tahu kak kalau ada peninggalan Jepang di sini, red) ujar seorang murid SD di Lorong Majapahit 1 Ulu ketika diajak melihat sisa-sisa bekas pertahanan Jepang tak jauh dari sekolahnya.
(SH/muhamad nasir)

Midang”, Tradisi Ritual Setelah Lebaran

“Sinar Harapan, 30 Oktober 2006



Oleh
Muhammad Nasir

Palembang - Diiringi musik tanjidor, ratusan pasang pengantin remaja melakukan tradisi ritual pasca-Lebaran di Kayuagung, Ibu Kota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dengan berjalan sejauh 5 km. Tradisi itu disebut midang, morge siwe.
Selain menyusuri jalan di sepanjang Sungai Komering yang membelah kota yang terletak sekitar 120 km dari Palembang, Ibu Kota Sumatera Selatan, barisan pengantin remaja itu juga menyeberangi Sungai Komering dengan perahu ketek. Ini memberikan gambaran betapa mulianya ritual perkawinan yang merupakan pertanda berakhirnya masa bujang dan gadis.
Sudah turun temurun tradisi ini digelar masyarakat Kayuagung yang terdiri dari sembilan marga. Hanya saja, kini ritual itu dilakukan untuk melestarikan tradisi. Karena perkawinan yang digelar masyarakat tak mungkin lagi bisa menyelenggarakan upacara sebesar itu.
Dalam tradisi midang ini, spontanitas warga kota yang berpenduduk sekitar 150.000 keluarga memadati sepanjang jalan yang dilalui. Karena banyaknya pasangan pengantin remaja yang ikut meramaikan ritual midang, kini digelar selama dua hari, yakni pada Kamis (26/10) dan Jumat (27/10).
Dalam ritual itu digambarkan bagaimana perkawinan itu dimulai dari perkenalan antara bujang dan gadis, lalu ada acara melamar atau bahkan kawin lari dan diakhiri dengan perkawinan yang diwarnai arak-arakan sepasang pengantin keliling kota untuk memberi tahu warga bahwa sepasang remaja itu kini sudah berubah status.
Pada ritual itu, setiap marga diwakili satu pasang pengantin inti yang berpakaian lengkap pengantin khas Kayuagung diiringi puluhan bahkan ratusan pengantin remaja sebagai pengiring.
Banyaknya jumlah pengiring ini, menurut Ketua Pemuka Adat Kayuagung Rahman Ahmad, bergantung besar kecilnya keluarga. Semakin besar keluarga, semakin banyak pengantin pengiring. Arak-arakan ini juga diiringi musik tanjidor yang membawakan lagu daerah.
Pengantin inti lelaki maupun pengantin pengiring mengenakan handuk sebagai selendang. Sebagai pertanda bahwa usai arak-arakan mereka akan mandi di Sungai Komering. Saat mandi itu tidak mengenakan apa-apa, kecuali handuk yang dilepas begitu tubuh masuk ke air.
Mereka meski melewati pendopoan, karena waktu zaman penjajahan, pemerintah Belanda mengharuskan para pengantin melewati pendopoan yang kini ditempati bupati. "Itu sebagai bagian dari pengontrolan pemerintah Hindia Belanda," ujar Rahman Ahmad.

Tanpa “Bong” dan “Juli”
Kalau zaman dahulu, dalam arak-arakan juga dibawa bong (tempat mandi dari kayu yang mengapung) yang biasanya ditempatkan di sungai. "Itu pertanda ada keluarga baru, ada bong baru. Tetapi karena sekarang sulit mendapatkan kayu besar yang mengapung, bong itu ditiadakan," paparnya.
Selain itu, arak-arakan juga diramaikan juli (gerobak yang dihiasi seperti perahu atau kapal). Pengantin inti ini pun dinaikkan di atas juli saat melewati pendopoan.
Kini, midang tanpa bong dan juli. Arak-arakan cukup berjalan kaki.
Menurut Camat Kayuagung Nehru, pesan yang ingin disampaikan bahwa tradisi arak-arakan ini tetap harus dilestarikan. "Apalagi, kalau menunggu ada perkawinan mabang handak (bawang putih) yang mampu menggelar midang, rasanya cukup sulit karena membutuhkan dana sangat besar. Karenanya, sejak puluhan tahun lalu, tradisi yang dikenal sejak kesultanan Palembang tahun 1800 Masehi lalu, digelar usai Lebaran," ujarnya di sela-sela midang.
Masyarakat Kayuagung yang menetap di kota itu ataupun perantau yang mudik saat Lebaran kini memang dapat menikmati midang tanpa perlu menggelar perkawinan. Dengan biaya swadaya masyarakat, usai Lebaran Kota Kayuagung akan selalu ramai. Mereka tumpek di sepanjang jalan yang dilewati peserta midang.
Bupati OKI, Ishak Meki, menggantikan peran pemerintah kolonial, memberikan sambutan di pendopo didampingi para pejabat dan anggota DPRD. Barisan midang pun berlalu untuk kembali lagi tahun depan. n

Tradisi Mencari Jodoh Ketika Facebook Memengaruhi Midang

Sinar Harapan Jumat, 25 September 2009 13:38

Kayuagung - Tradisi Midang masih terus berlanjut. Hanya saja, kini tradisi ini tak lagi jadi ajang mencari jodoh.

Kemajuan teknologi komunikasi tampaknya telah memengaruhi para remaja di Kayuagung, Ogan Komering Ilir (OKI) dalam mencari jodoh. Mereka kini telah sangat akrab dengan jejaring sosial layaknya remaja perkotaan, seperti Friendster ataupun Facebook.
Pasangan muda-mudi yang berasal berbagai kecamatan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel), memang mengikuti arak-arakan keliling Kota Kayuagung, pekan lalu. Tradisi Midang ini dilaksanakan pascalebaran setiap tahunnya.
Kayuagung berjarak sekitar 100 km dari ibu kota Provinsi Sumsel, Palembang. Atau ditempuh selama 1,5 jam perjalanan melewati Jalintim dari Palembang ke arah Lampung. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Midang mendapat sambutan antusias oleh gadis dan bujang Kayuagung. Kegiatan Midang diikuti sekitar lima kelurahan di Kota Kayuagung, yaitu Kelurahan Sidakersa, Kedaton, Kutaraya, Perigi, dan Kayuagung Asli. Para peserta Midang ini berjalan menyusuri sepanjang jalan di pinggir Sungai Ogan. Mereka melewati Kelurahan Sukadana, Paku, Mangunjaya, Cintaraja, Sidakersa, dan Kelurahan Jua-Jua. Hanya saja, mereka mengaku tak lagi menjadikan ajang ini untuk mencari calon pasangan hidup. ”Wah, kayaknya idak (tidak). Kalau mau cari teman lebih enak melalui internet,” ujar Chairul, remaja di Kayuagung yang tampak sibuk mengutak-atik handphone 3G-nya.
Tampak memang, sembari menyaksikan iring-iringan Midang, para remaja sibuk dengan handphone masing-masing. Rupanya, mereka berinternet ria. Sementara, para peserta Midang yang mengenakan pakaian adat menyeberang ke Kelurahan Kedaton, Kotaraya, Perigi. Dalam arak-arakan ini sepasang muda-mudi dinaikkan ke atas Juli (tandu yang dihiasi). Bemacam-macam bentuk Juli ini, ada yang berbentuk burung, ada yang berbentuk mobil, bahkan ada juga yang berbentuk singgasana raja. Musik tanjidor mengiringi arak-arakan ini menyusuri Kota Kayuagung, setidaknya sepanjang 1,5 km.
Pada zaman kolonial Belanda, para peserta Midang ini harus melewati pendopoan sebagai bentuk tanda pengon¬trol¬an para petinggi Kolonial Belanda. Makanya, Midang saat ini pun pesertanya harus melintas di depan pendopoan, di hadapan pada pejabat dan tetua serta tokoh masyarakat.
Di pendopoan telah menunggu Bupati OKI Ir H Ishak Mekki, Ketua sementara DPRD OKI HM Yusuf Mekki, Ketua TP PKK OKI Hj Tartila Ishak, Kapolres OKI AKBP Cok Bagus Ary Yudayasa, serta unsur muspida lainnya.
Arak-arakan peserta finis di Kayuagung Asli. Walaupun hanya dilaksanakan setahun sekali, antusiasme masyarakat untuk mengikuti dan menyaksikan Midang ini cukup tinggi.

Morge Siwe
Bupati OKI H Ishak Mekki mengatakan, kegiatan Midang ini merupakan tradisi masya¬rakat Kayuagung, baik dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri maupun HUT Kabupaten OKI. Midang ini sudah menjadi agenda nasional dalam kunjungan wisata budaya di Kabupaten OKI.
Tetua adat Kayuagung A Rahman Ahmad menyebutkan, Midang merupakan suatu tradisi yang digelar masyarakat Kota Kayuagung, khususnya sembilan marga atau morge siwe yang dikenal masyarakat luar sebagai Midang.
Midang Morge Siwe ini diartikan juga sebagai “Karnaval Sembilan Marga”. Menurut dia, sembilan marga asli Kayuagung tersebut yakni Dusun Kayuagung Asli, Dusun Perigi, Dusun Kotaraya, Dusun Kedaton, Dusun Jua-Jua, Dusun Sidakersa, Dusun Mangunjaya, Dusun Paku, dan Dusun Sukadana. “Midang ini merupakan suatu rangkaian adat perkawinan Mabang Handak (burung putih) yang merupakan adat perkawinan tertinggi di kalangan masya¬rakat Kayuagung yang dilaksanakan oleh mereka yang tergolong dalam keluarga pesirah atau keluarga Keratin,” ujar Ramhan.
Dia menjelaskan, pada zaman dahulu, Midang ini merupakan suatu bagian dari adat perkawinan Kayuagung, di mana para peserta Midang adalah para bujang dan gadis marga Kayuagung. “Jika ada yang seorang bujang luar menyukai gadis Kayuagung dan terpikat ingin meminangnya, dia (bujang) itu dapat melamarnya dengan mengikuti semua adat istiadat perkawin¬an Kayuagung, seperti melaksanakan Midang ini,”ujarnya.
(sh/muhamad nasir)

Kamis, 07 Mei 2009

serapungan di empat lawang







*Tradisi Serapungan

Meniti Musi dengan Dua Batang Bambu

Palembang: Objek wisata yang bisa dinikmati, tidak saja terdapat dalam agenda resmi. Banyak even tradisional yang belum masuk agenda tujuan wisata namun ternyata memberikan nuansa tersendiri. Unik dan tak ditemukan di tempat lain. Diantaranya, tradisi serapungan di Tebingtinggi, Sumsel.


Sungai Musi bagian ulu, atau dikenal dengan Musi Ulu punya even tradisi yang cukup unik. Setiap tahun, even ini digelar serangkaian peringatan tertentu. Dahulu, setiap tujuh belasan dan kini setiap HUT Kabupaten Empat Lawang, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Lahat sejak dua tahu terakhir. Tradisi ini, berupa mengarungi arus sungai Musi menumpang dua batang bambu. Disebut serapungan.

Mengasyikkan, karena kita bisa sekaligus mengikuti peserta lomba serapungan ini. Bisa peserta serapungan kecepatan atau serapungan santai.





Serapungan kecepatan, masing-masing peserta beradu cepat sampai garis finish. Sementara serapungan santai, peserta mengarungi arus Musi dengan bambu yang dihiasi berbagai bentuk.

Jarak tempuh serapungan ini, sejauh sekitar 9 km dar Desa Terusan dengan finish di kota Tebingtinggi, Empat Lawang. Untuk serapungan kecepatan, biasanya ditempu dalam waktu 1 jam. Sementara serapungan santai, bisa 2 sampai 2,5 jam.

Transportasi
Serapungan ini, dahulunya, menurut Bupati Empat Lawang, Budi Antoni Aljufri, merupakan alat transportasi warga masyarakat menyeberangi sungai Musi menuju ladang dan kebun.

Waktu itu memang belum ada jembatan gantung di atas sungai. Setelah masyarakat, baik secara bersama-sama maupun dibiayai pemerintah, membangun jembatan gantung, tradisi ini mulai ditinggalkan. Meski demikian, sesekali atau satu dua warga, masih ada yang menyebarangi sungai menggunakan serapungan ini. Saat menyeberang, pakaian diletakkan di atas kepala.

Lalu, dengan menggunakan kedua tangan, warga mendayung dari atas kedua bambu sehingga serapungan bergerak maju. Menyeberangi sungai Musi yang lebarnya berkisar 100 hingga 125 meter.




Perlombangan serapungan dimaksudkan untuk melestraikan tradisi lama ini. Sehingga generasi muda dapat mengetahui betapa sulitnya pendahulu mereka dahulu mengangkut hasil ladangnya.


”Diharapkan nantinya, tradisi serapungan ini masuk agenda wisata Sumsel. Bahkan, bisa masuk agenda wisata nasional,” harap Budi Antoni usai melepas peserta serapungan.

Serapungan ini berupa bambu dengan panjang bervariasi 2,5 meter hingga tiga meter dengan lima ruas. Dua bambu ini diikat dengan rotan. Dikeringkan dan dikupas lapisan luar bambu tersebut. Semakin kering dan enteng biasanya semakin ringan serta cepat. Menariknya, bambu ini kemudian dicat berbagai warna. Meskipun, ada juga yang dibiarkan seperti apa adanya.

Pekan lalu, serapungan kembali digelar di Tebing Tinggi, Empat Lawang. Sedikitnya 83 peserta mengikuti serapungan kecepatan dan ribuan lainnya meramaikan serapungan santai.




Peserta serapungan cepat terdiri dari anak-anak hingga orang tua. Sementara serapungan santai, selain menggunakan serapungan hias juga banyak yang hanya menggunakan ban dalam mobil yang dipompa.

Fandra (19), merupakan warga Desa Terusan yang sejak tiga tahun terakhir menjadi juara serapungan. Dan tahun ini, dia pun kembali menjadi juara.

Ingin merasakan bagaimana rasanya wisata air, mungkin even ini bisa dijadikan tujuan wisata yang bisa dinikmati.

Hanya saja, untuk mencapai lokasi ini dari kota Palembang, cukup jauh. Jarak Palembang ke Tebing tinggi ditempuh dalam waktu 7 jam menggunakan mobil ataupun kereta api.





Kereta api, tersedia dua jadwal, siang dan malam. Kalau memilih kelas ekonomi bisa berangkat siang hari dari Stasiun Kertapati, Palembang tujuan Lubuklinggau. Atau jika memilih kelas bisnis dan eksekutif berangkat malam hari. Jika berangkat dari Kertapati pukul 21.00 WIB, tiba di Stasiun Tebing tinggi sekitar pukul 04.00 WIB.

Sementara kalau memilih menggunakan mobil bisa menumpang bus ataupun travel. Ongkosnya berbeda sesuai dengan kelasnya. Jadi untuk menikmati air terjun ini, dari Palembang membutuhkan waktu 3 hari termasuk perjalanan Tebingtinggi-Palembang.

Masalah lainnya, penginapan di kota Tebing tinggi masih terbatas. Itupun, hanya penginapan kelas melati dengan fasilitas terbatas. (sh/muhamad nasir)

Wayang Palembang Nasibmu










Wayang Palembang, Tenggelam di Tepi Musi

Merangseknya budaya-budaya luar membuat generasi penerus tak mengenali dan tak menyukai budaya leluhur. Termasuk diantaranya, wayang Palembang yang kini telah semakin terpinggir dan mulai punah.
Wayang kulit Palembang memang tidak begitu dikenal dibanding wayang purwo asli Jawa. Walau sesungguhnya pernah tersohor di zamannya. Sayangnya, hingga kini peninggalan leluhur Palembang ini mulai punah ditelan zaman.
Di era 70 an dunia perwayangan Kota Palembang masih kerap menggelar kegiatan pentas di tengah masyarakat Palembang, seperti resepsi perkawinan serta khitanan. Namun kebiasaan masyarakat asli Palembang tidak menular ke generasi saat ini yang lebih mengenal kebudayaan luar.
Saat ini Wayang Purwa dari Jawa masih terus digandrungi dan digemari masyarakat Jawa. Bahkan bukan saja pada even tertentu saja, tetapi pementasan wayang purwa kerap diadakan oleh masyarakat Jawa khususnya yang tinggal di perkampungan. Seperti hiburan masyarakat, antara lain untuk acara khitanan dan resepsi perkawinan, bahkan perayaan syukuran kepala desa, maupun setelah selesai panen padi, masyarakat kerap menanggap wayang purwa ini.
Berbeda dengan wayang Palembang, agaknya era wayang Palembang sudah tenggelam. Tergeser oleh dominasi seni pop modern yang dinilai lebih menghibur. Berbagai hajatan rakyat, yang puluhan tahun lalu menjadi ruang pagelaran wayang Palembang, kini telah disergap pertunjukan organ tunggal yang marak di mana-mana.
Ironisnya, sebagian besar anak-anak di Palembang tidak begitu mengenal peninggalan leluhurnya ini. Tak sengaja, Jumat kemarin Sinar Harapan pernah bertanya kepada sejumlah siswa SLTP di Palembang. Sebagian besar mereka tidak mengetahui sama sekali bahwa Palembang memiliki wayang.
“Kita punya wayang asli kebudayaan Palembang ya, kak, dalangnya juga ada disini?saya kira Wayang berasal dari Jawa,” kata Heru, salah satu siswa SLTP Negeri di Palembang.
Karakter Khas
Johan Hanafiah budayawan Palembang menambahkan wayang Palembang sebenarnya kebudayaan yang memiliki karakter khas dibanding dengan wayang kulit purwa asal Jawa.
Namun sayang, lanjut dia wayang Palembang sudah kehilangan generasi penerus karena dalang terakhir wayang Palembang dengan menggunakan dialog bahasa Melayu Palembang itu, Ki Agus Rusdi Rasyid, telah meninggal pada Februari 2004. Saat ini, praktis tidak ada generasi penerus yang menguasai wayang tersebut.
Setelah era Alm Ki Agus Rusdi Rasyid usai, tambahnya seni tradisional, terutama wayang Palembang semakin ditinggalkan masyarakat, karena dinilai monoton dan tidak memiliki daya jual yang menarik.
Dia memaparkan Wayang Palembang, yang diperkirakan tumbuh sejak pertengahan abad ke-19 Masehi, saat Arya Damar yang terpengaruh budaya Jawa berkuasa di daerah Palembang. Wayang itu kemudian terus tumbuh dengan karakter lokal sehingga menjadi khas Palembang.
Wayang Palembang memiliki bentuk fisik dan sumber cerita yang sama dengan wayang purwa dari Jawa.
Bedanya, wayang Palembang dimainkan dengan menggunakan bahasa Melayu Palembang, dan perilaku tokoh-tokohnya lebih bebas. Sementara wayang purwa menggunakan bahasa Jawa dan perwatakan tokohnya ketat dengan pakem-pakem klasik.
Dia menilai merupakan kehilangan besar bagi masyarakat Sumsel, sehingga semua masyarakat Sumsel seharusnya bertanggung jawab untuk kembali menggali dan melestarikannya. (sh/muhamad nasir)

Tersimpan Rapi






Di rumah panggung kayu yang tersembunyi di Lorong Pasar, Pasar Tangga Buntung yang sesak tepatnya di Kelurahan 36 Ilir Palembang, dapat dijumpai peninggalan aset wayang Palembang.
Meski wayang tersebut sudah kusam, kotor dan rusak, sebagai warisan luluhur dan bukti sejarah wayang tersebut tetap tersimpan rapih di dalam peti khusus di kediaman Alm Ki Agus Rusdi Rasyid.
Dalang Muda Wirawan Rusdi, putra pertama Alm Rusdi, penerus dunia perwayangan Palembang bercerita banyak saat dijumpai di kediamannya.
Pedalang muda dari Sanggar Sri Wayang Palembang, Wirawan Rusdi anak dari pedalang senior asli Palembang, Ki Agus Rusdi Rasyid (alm) mengakui, kesenian tradisional wayang kulit Palembang, Sumatra Selatan, saat ini sudah mulai punah akibat tidak ada lagi generasi baru yang meneruskannya.
Selain itu, menurutnya, pedalang tua yang menguasai wayang dengan dialog berbahasa khas Melayu Palembang itu sudah tiada lagi.Sementara pemerintah dan lembaga kebudayaan tidak memiliki agenda konkret untuk melestarikan kekayaan tradisi itu.
Wirawan menjelaskan agar kebudayaan tersebut tidak punah, kepedulian Tim Peneliti dari UNESCO- sebuah badan dunia untuk urusan pendidikan dan kebudayaan ikut terlibat saat itu.
“Mereka mengutus Karen Smith wanita asal Australia menetap di Amerika dan Yushi Simishu pria asal Jepang yang menetap di Paris, markasnya UNESCO untuk berkunjung ke Sanggar kami yang terletak di Jalan PSI Lautan Rt.10,16 Ceklatah, 36 Ilir Palembang,” paparnya.
Hingga kini, sambungnya Sanggar Sri Wayang menjadi binaan UNESCO satu-satunya di Palembang, sebab wayang merupakan kekayaan seni tradisi lokal yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 2004.
Dia mengungkapkan, saat itu Tim UNESCO mengunjung Sanggar Sri Wayang tidak sendirian. Melainkan dibarengi pimpinan Yayasan Senawangi Jakarta, Sumari, Ketua Persatuan Pendalangan Indonesia (Pepadi) Pusat, Eko Cipto, Ketua Pepadi Sumsel, H.R Amin Prabowo,
Menurutnya, rasa tertarik untuk mendalami dunia wayang hanya karena tanggung jawab terhadap aset budaya yang saat ini dinilai hampir punah, sebab tidak ada lagi generasi penerus untuk dalang di Palembang ini. Apalagi bukan dari keluarga besar Ki Rusdi Rasyid (kakeknya).
“Saya tidak pernah berpikir untuk menjadi dalang meski pada saat kecil dulu kerap dikenalkan wayang oleh ayah,”ungkapnya.
Namun, karena sadar untuk meneruskan asli budaya wayang Palembang dari keluarga setidaknya dia sebagai anak tertua ikut menerusnya tradisi dalang ini.
Dia menerangkan terobsesi menjadi dalang setelah ayahnya meninggal, ketika itu sekitar 2005 dikunjungi oleh utusan UNESCO. Saat itu Sanggar Sri Wayang warisan orang tuanya tersebut sempat vakum.
Karena diberi bantuan wayang dan seperangkat gamelan tersebut, akhirnya sempat berpikir untuk menjadi dalang.
“Saya tidak ingin bantuan itu hanya untuk pajangan. Dengan rasa tanggung jawab itu akhirnya saya mulai belajar mendalami dunia dalang,”paparnya.
“Hampir semua peralatan wayang peninggalan ayah sudah rusak, hilang, atau entah ke mana. Kebanyakan peninggalan ikut ludes saat kebakaran rumah sekitar 2004dan sebagian lagi terendam banjir tahunan atau keropos dimakan usia, sehingga saat itu sempat hampir terlupakan, tetapi dari bantuan itu membuat motivasi bangkit lagi,”ujarnya.
Dia menerangkan meski wayang Palembang tidak begitu terkenal dan tersohor dibanding wayang Jawa, sebagai penerus dalang dari keluarga, dia sangat bangga. Sebab ayahnya pernah di undang dipertunjukan wayang tradisional di Taman Ismail Marzuki Jakarta, awal tahun 1990-an.
Dia mengakui di eranya jarang dipanggil untuk pentas. Kalaupun tampil hanya pada even tertentu. Untuk secara komersil, seperti hajatan perkawinan dan sunatan tidak pernah sama sekali, karena kesenian ini jauh ngetopnya dibanding kesenian modern.
Namun berkat niat, lanjutnya, dia pernah ikut diundang untuk mentas di Jogyakarta dalam acara The Indonesia Puppets Exhibitions.
Dinilainya, saat ini wayang Palembang tenggelam, apalagi banyak masyarakat tidak mengetahui dan senang dengan kebudayaan asli. Apalagi sebagian masyarakat Palembang yang mengerti kesenian mengganggap menyewa wayang untuk pertunjukan lebih mahal dari organ tunggal.
Padahal, sambung Wirawan, dia tidak pernah mematok tarif khusus. Paling tidak kalau memang dikomersilkan hanya Rp5 juta- Rp6 juta.
Dia menjelaskan wayang Palembang berbeda, karena mentas hanya 1-3 jam, sementara wayang Jawa bisa semalam suntuk. Sehingga tarifnya pun lebih murah dibanding wayang Jawa yang bisa mencapai belasan juta sekali mentas.
Wirawan berharap kepada pemerintah daerah dapat mengenalkan wayang Palembang di setiap sekolah, meski hanya dalam kegiatan ekstra kulikuler dan hanya dilakukan hanya satu tahun sekali.
Selain itu dia bercita-cita Wayang Palembang asli kesenian Palembang ini dapat dikenal di Tanah Air bahkan keseluruh negara.
Kini hanya dia yang menjadi dalang asli Palembang. Almarhum Ki Agus Rusdi Rasyid, merupakan salah satu dalang terakhir yang menguasai permainan wayang Palembang. Sementara ayahnya baru meninggal setahun lalu. Adapun dalang-dalang lain, seperti Syekh Hanan dan Ki Agus Umar, sudah meninggal beberapa tahun silam. Sebenarnya masih ada dalang yang tersisa, Sukri Ahkab, yang pernah menjadi Kepala Stasiun RRI Palembang. Sukri pun sudah pindah dari Palembang beberapa tahun lalu. (sh/muhamad nasir)



http://www.sinarharapan.co.id/berita/0905/02/hib02.html

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0905/01/hib03.html

Rabu, 11 Maret 2009

Wisata Sungai di Empat Lawang












Wisata Sungai di Empat Lawang

Arung Jeram di Musi Ulu


Tebingtinggi: Aliran Sungai Musi Ulu memberikan peluang untuk dinikmati dengan menumpang perahu karet dengan olahraga arum jeram.

Jalur sepanjang 29 km dari Desa Tanjungraya hingga ke Tebingtinggi, ibukota Kabupaten Empat Lawang memang memiliki beberapa titik berupa arus deras yang bisa meningkatkan andrenalin. Karena, selain arus yang deras dan bergelombang ditambah pusaran yang membuat perahu terombang-ambing, juga bebatuan besar dan keras membuat penumpang perahu harus hati-hati.

Kalau tidak, perahu bisa terbalik dan terbentur batu. Kalau lagi apes, bukan tidak mungkin kepala terbentur. Tanpa helm, tentu akan berbahaya.








Jalur ini memang kalau dinilai, memiliki tingkat kesulitan tingkat tiga. Dengan debit air yang cukup deras serta tingkat kesulitan dan berbahaya yang lumayan tinggi.

Di beberapa titik, lekukan akibat adanya batu-batu besar membuat perahu karet terombang-ambing dan kalau tak pandai-pandai mengendalikan bisa terbalik.

Dalam ekspedisi Musi Ulu yang juga melintasi jalur ini pekan lalu, dari lima perahu karet yang membawa tim ekspedisi hanya satu perahu yang tidak terbalik.

Perahu karet yang membawa Bupati Tebingtinggi Budi Antoni Aljufri, bahkan sempat terbalik. Sang bupati yang menumpang perahu karet bersama lima orang lainnya sempat terpental.








Kalau saja bernasib buruk, sang Bupati bisa terbentur batu. Begitu juga perahu karet lainnya, yang ditumpangi para wartawan sempat dua kali terbalik. Penumpang pun berhamburan. Iwan Wartawan Sumatera Ekspres, Mabius dari Palembang Pos, dan yang lainnya pun terlempar ke sungai. Helm dan pelampung membuat ekspedisi arung jeram ini tak memakan korban.

Padahal, kekhawatiran sempaat merebak ketika tim ekspedisi dilepas dari Desa Tanjungraya, Lintang Kanan, Kabuputen Empat Lawang.

Sepanjang jalur itu, sedikitnya terdapat 13 arung jeram yang cukup deras. Mengarah ke batu dan membuat perahu jumping.

Agaknya, memang ekspedisi ini yang digagas Tavern Artwork bersama Pemerintah Empat Lawang memberikan inspirasi bagi terselanggaranya wisata sungai di Musi Ulu. Apalagi, jalur ini memang memberikan prospek yang baik.

Kendala bagi daerah ini, belum adanya Badan atau Dinas tersendiri yang mengurus soal pariwisata. ”Kedepan, kami akan pertimbangkan untuk membentuk Dinas Pariwisata,”: ujar Bupati.

Pemandangan sepanjang aliran sungai juga memberikan nuansa tersendiri. Selain bebukitan, juga tebing-tebing terjal bisa dijadikan objek panjat tebing. Belum lagi beberapa muara anak sungai dengan bebatuan menghitam dan ukuran yang cukup besar memberikan pandangan indah tersendiri.






Suasana angker yang selama ini dipercaya masyarakat cukup memberikan kesan dan tantangan sendiri.Paling tidak, percaya ataupun tidak percaya memang untuk menikmati arung jeram di jalur ini harus dimulai dengan ritual berdoa dan tidak boleh sombong dan angkuh.









Banyaknya pantangan dan peringatan-peringatan yang berbau misteri memang tetap harus dipegang dan dipercaya. Apalagi, dengan arusnya yang tenang di beberapa titik sehingga membuat peserta arus jeram harus menguras energi mendayung perahu memang membuat energi tersedot dan terkuras. Jarak 29km yang kalau menggunakan mobil bisa ditempuh hanya 2 jam, dengan perahu karet memakan waktu 6 jam.

Jika di sepanjang aliran sungai, terutama di beberapa titik lebih ditata tentu bisa memberikan nuansa tersendiri. Batu-batu raksasa dan dinding sungai yang bergua, bisa memberikan ciri khas tersendiri.

Berminat menikmati arung jeram di bagian ulu Sungai Musi, bisa menempuh perjalanan sekitar 8 jam dari Palembang menuju Tebingtinggi. (sh/muhamad nasir)

Selasa, 10 Maret 2009

Wisata air terjun di Empat Lawang



Air terjun tujuh panggung di Desa Tanjungalam, Lintang Kanan, Kabupaten Empat Lawang.






Objek Wisata di Empat Lawang

Air Terjun Tujuh Panggung, Objek Wisata Menantang


Tujuan wisata di wilayah Sumsel ternyata tidak hanya berupa objek yang sudah dikenal dan diketahui umum. Tetapi ada juga berupa objek yang masih belum digarap dan masih ‘perawan’ berada di lokasi yang tersembunyi. Salah satunya, air terjun tujuh panggung di Desa Tanjungalam, Lintang Kanan, Kabupaten Empat Lawang.


Sebagai daerah pemekaran dari Kabupaten Lahat, Kabupaten Empat Lawang memang memiliki tidak sedikit objek wisata yang selain memberikan keindahan juga sedikit tantangan.

Di lokasi di atas Deretan Bukit Barisan yang terletak di atas 1.200 meter diatas permukaan laut (DPL), lokasi air terjun tujuh panggung memang memberikan nuansa segar alam pegunungan. Alam yang masih belum tersentuh ini terletak di antara kebun-kebun warga dan hutan yang masih ‘perawan’.


alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311765215237159378" />


Air terjun di panggung ketiga cukup sulit didaki. Namun, warga sekitar sudah sering menikmatinya.






Untuk mencapainya, harus rela berjalan kaki selama sekitar 3 jam dari desa terdekat, Desa Tanjungalam. Kalau mau naik ojek, sebenarnya ada, tetapi hanya separoh jalan. Selebihnya tetap harus berjalan kaki meniti jalan setpak di lereng bukit yang terjal dan licin berlumut.

Sinar Harapan yang mengikuti ekspedisi Musi Ulu pekan lalu mendapati ternyata akses ke air terjun di panggung (tingkat ke tujuh) ternyata belum tersedia akses. Bersama warga desa, tim ekspedisi ini membuka akses jalan.

Kepala Desa Tanjungalam, Jon Kenedi mengakui selama ini keindahan air terjun ini haya dinikmati warga desanya. Itupun terbatas yang punya kebun di sekitarnya.

Karena memang, akses jalan masih berupa jalan setapak yang harus melewati bukit terjal dan hutan rimbun. Itupun baru sampai ke panggung ke dua. Selanjutnya masih berupa jalan melintasi semak belukar.



Disinilah panggung pertama. Air yang jernih dan gemericik air mengundang pengunjung untuk berendam. wah, brrrrr dingin ya...




Air terjun di panggung pertama terdiri dari enam deretan air mancur yang masing-masing setinggi sekitar 2 meter dan dibawahnya ada lubuk sedalam sekitar 3-4 meter dengan luas sekitar 4 x5 meter. Air yang jernih dan dingin membuat keinginan berendam tak tertahankan.

Sementara di panggung kedua hingga ketujuh juga memberikan nuansa yang berbeda. Karena ketinggian masing-masing air terjun memang berbeda. Berkisar antara 5 hingga meter 14 meter. Di panggung ketujuh, malahan terdapat dua sumber air yang mengucur ke lubuk di bawahnya. Hanya saja di panggung ini, sepertinya memberikan kesan angker karena ada pusaran air yang cukup kuat.

Di atasnya lagi, sesungguhnya masih ada dua panggung air terjun. Namun, belum ada satupun orang yang berani menapakinya, karena memang jalan menuju ke sana cukup terjal. Tebing bebauannya mencapai 45 derajat. Selain curam, juga berlumut sehingga sulit didaki.

Nuansa alami yang liar ini memang cukup memberikan kesan tersendiri bagi mereka yang punya minat menikmati wisata alam. Hanya saja, untuk mencapai lokasi ini dari kota Palembang, cukup jauh. Jarak Palembang ke Tebing tinggi ditempu dalam waktu 7 jam menggunakan mobil ataupun kereta api.

Saat ekspedisi, suasana lebih meriah karena diramaikan oleh para pemburu babi. Ketua Persatuan Olahraga Berburu Babi (Porbi) Sumsel Hamlian membawa serta sedikitnya seratus pemburu lengkap dengan anjing. Hasilnya, 14 ekor babi hutan berhasil ditangkap dalam sehari dari kawasan perkebunan dan ladang masyarakat setempat.



Rombongan pemburu babi dari Pagaralam meramaikan ekspedisi Musi Ulu ke Air terjun Tujuh Panggung.





Kereta api, tersedia dua jadwal, siang dan malam. Kalau memilih kelas ekonomi bisa berangkat siang hari dari Stasiun Kertapati, Palembang tujuan Lubuklinggau. Atau jika memilih kelas bisnis dan eksekutif berangkat malam hari. Jika berangkat dari Kertapati pukul 21.00 WIB, tiba di Stasiun Tebing tinggi sekitar pukul 04.00 WIB.

Sementara kalau memilih menggunakan mobil bisa menumpang bus ataupun travel. Ongkosnya berbeda sesuai dengan kelasnya. Dari Tebingtinggi menuju lokasi desa terdekat bisa ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam. Kendaraan angkot bisa disewa untuk mencapai kawasan ini. Jadi untuk menikmati air terjun ini, dari Palembang membutuhkan waktu 3 hari termasuk perjalanan Tebingtinggi-Palembang.



Akses menuju lokasi aor terjun hanya berupa jalan setapak. Bahkan, jalan ini baru dibuat oleh warga. Kalau tidak hati-hati, bisa berbahaya. Jurang yang curam dan berbatu menanti, merupakan tantangan tersendiri.






Kelelahan menempuh perjalanan dari Desa Tanjungalam ke lokais air terjun rasanya terbayar ketika sudah menikmati kesegerdan sawah alam di air terjun. Sepanjang jalan desa dan jalan setapak, ladang, sawah serta gemericik air sungai menemani dan menambah nikmat perjalanan wisata.

Usai menikmati air terjun, dua sumber air panas yang berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan kaki juga bisa melengkapi perjalanan wisata alam ini.

Kendala minimnya akses menuju lokasi wisata ini diakui Bupati Empat Lawang, Budi Antoni Aljufri. ”Memang kami akan kembangkan konsep wisata alam yang komplit. Termasuk akan menyediakan akses jalan yang memadai menuju lokasi dari desa terdekat,” ujarnya usai melepas ekspedisi Musi Ulu. Ekspedisi ini selain menembus lokasi air terjun Tujuh Panggung, juga menjajal arung jeram di Sungai Musi Ulu.






Rombongan ekspedisi Musi Ulu dilepas Bupati Empat Lawang, Budi Antoni Aljufri di Pendopoan.






Target awal, bukanlah wisatawan mancanegara. Tetapi wisatawan lokal yang berasal dari Sumsel dan Tebingtinggi. Sesaat setelah dibuka akses saja, puluhan anak-anak sekolah sudah bisa menikmati nuansa alami air terjun tujuh panggung di Bukit Barisan ini.
Ketua Pelaksana tim ekspedisi dari Tavern Artwork, Herna mengakui ekspedisi ini dilakukan mencari objek wisata yang nantinya bisa dikembangkan sebagai kawasan wisata pilihan. Mau wisata yang alami dan perawan dan masih liar, mungkin objek ini bisa menjadi pilihan. (sh/muhamad nasir)




Di depan penopoan Bupati pun, pemandangan kota Tebingtinggi dengan latar belakang Bukit Barisan cukup menggoda.

Selasa, 03 Maret 2009

Wisata Danau Ranau


Danau Ranau
Wisata yang Masih Menjadi Misteri


Oleh
Muhamad Nasir

PALEMBANG - Keindahan Danau Ranau tak terbantahkan lagi. Namun, letaknya yang jauh dari pusat kota, Palembang, membuat objek wisata ini ibarat “misteri”.

Keindahannya tersaput kabut. Oleh karena itu, meskipun indah, wisatawan yang berkunjung ke sini masih bisa dihitung dengan jari.
Sama seperti awal terbentuknya danau itu yang dilingkungi misteri. Kendati secara ilmiah terbentuk melalui sebuah proses alam, masyarakat setempat percaya ada misteri yang melatarbelakangi terciptanya danau ini.
Mencapai lokasi ini, selain dari Palembang, juga bisa dijangkau dari Provinsi Lampung. Danau Ranau merupakan danau terbesar dan terindah di Sumatera Selatan yang terletak di Kecamatan Banding Agung, Kabupaten OKU Selatan (dahulu masuk dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu). Berjarak sekitar 342 kilometer (km) dari Kota Palembang, 130 km dari Kota Baturaja, dan 50 km dari Muara Dua, ibu kota OKU Selatan, dengan jarak tempuh dengan mobil sekitar tujuh jam dari Kota Palembang. Sementara itu, dari Bandar Lampung, danau ini bisa ditempuh melalui Bukit Kemuning dan Liwa.
Secara geografis, danau ini terletak di perbatasan Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung Danau Ranau yang mempunyai luas sekitar 8×16 km dengan latar belakang Gunung Seminung (ketinggian ± 1.880 meter dpl), dikelilingi oleh bukit dan lembah. Pada malam hari, udara sejuk dan pada siang hari cerah suhu berkisar antara 20°-26° Celsius. Terletak pada posisi 4°51’45” Bujur Selatan dan 103°55’50” Bujur Timur.
Secara teori, danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar. Sungai besar yang sebelumnya mengalir di kaki gunung berapi itu kemudian menjadi sumber air utama yang mengisi cekungan itu.
Lama-kelamaan, lubang besar itu penuh dengan air. Kemudian, di sekeliling danau baru itu, mulai ditumbuhi berbagai tanaman, di antaranya tumbuhan semak yang oleh warga setempat disebut ranau. Oleh karena itu, danau itu pun dinamakanl Danau Ranau. Sisa gunung api itu kini menjadi Gunung Seminung yang berdiri kokoh di tepi danau berair jernih tersebut.







Pada sisi lain di kaki Gunung Seminung, terdapat sumber air panas alam yang keluar dari dasar danau. Di sekitar danau ini juga dapat ditemui Air Terjun Subik. Tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Pulau Marisa yang terletak tidak jauh dari air panas.
Meskipun secara teori ilmiah diyakini danau ini terjadi akibat gempa tektonik, seperti Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Maninjau di Sumbar, sebagian besar masyarakat sekitar masih percaya danau ini berasal dari pohon ara. Konon, di tengah daerah yang kini menjadi danau itu, tumbuh pohon ara yang sangat besar berwarna hitam.
Masyarakat dari berbagai daerah, seperti Ogan, Krui, Libahhaji, Muaradua, dan Komering berkumpul di sekeliling pohon. Mereka mendapat kabar, jika ingin mendapatkan air, harus menebang pohon ara tersebut.
Persis saat akan menebang pohon, mereka bingung bagaimana cara memotongnya. Ketika itulah, muncul burung di puncak pohon yang mengatakan untuk memotong pohon harus membuat alat mirip kaki manusia. Akhirnya, pohon ara pun tumbang. Dari lubang bekas pohon ara itulah keluar air dan akhirnya meluas hingga membentuk danau. Sementara itu, pohon ara yang melintang membentuk Gunung Seminung.
Kondisi ini membuat jin yang tinggal di Gunung Pesagi meludah hingga membuat air panas di dekat Danau Ranau. Serpihan batu dan tanah akibat tumbangnya pohon ara menjadi bukit yang ada di sekeliling danau.

Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat
Di samping itu, masih di sisi Danau Ranau, tepatnya di Pekon Sukabanjar, berseberangan dengan Lombok, terdapat kuburan yang diyakini masyarakat sebagai makam Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Makam keduanya terletak di kebun warga Sukabanjar bernama Maimunah. Untuk menuju ke lokasi, selain naik perahu motor dari Lombok, bisa juga dengan berkendaraan.
Menurut juru kunci kuburan, H Haskia, di sini terdapat dua buah batu besar. Satu batu telungkup yang diyakini sebagai makamnya Si Pahit Lidah dan satu batu berdiri sebagai makamnya Si Mata Empat. Si Pahit Lidah yang oleh masyarakat disebut sebagai Serunting Sakti berasal dari Kerajaan Majapahit. Karena nakal, raja mengusir Si Pahit Lidah yang bernama asli Raden Sukma Jati ini ke Sumatera. Si Pahit Lidah pun menetap di Bengkulu, Pagaralam, dan Lampung.








Si Pahit Lidah memiliki kelebihan. Apa pun yang dikemukakannya terkabul menjadi batu. Akibatnya, Si Mata Empat yang berasal dari India mencarinya hingga bertemu di Lampung, tepatnya di Way Mengaku. Di sini keduanya saling mengaku nama. Lalu, keduanya beradu ketangguhan, di antaranya memakan buah yang bentuknya seperti aren. Ternyata buah aren itu pantangan bagi Si Pahit Lidah sehingga akhirnya dia tewas. Si Mata Empat yang mengetahui lawannya tewas tidak percaya dan mencoba menjilat lidahnya agar ilmunya bisa diserap. Akhirnya, dia pun tewas.
Begitulah Danau Ranau. Objek wisata yang sebenarnya menjanjikan. Sayangnya, hingga kini wisatawan masih belum banyak yang menikmatinya. n



Copyright © Sinar Harapan 2008
Dimuat di Harian Sore Sinar Harapan edisi 2 Maret 2009 halaman wisata.

dkutip dari http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/02/wis01.html

Selasa, 24 Februari 2009

Wisata Sungai Musi

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0902/23/wis01.html






Pulau Kemaro, di tengah Sungai Musi (diambil dari http://kotapalembang.blogspot.com/)



Pulau Kemaro
Wisata Pulau di Sungai Musi



Oleh
Muhamad Nasir

PALEMBANG - Pulau itu berada di tengah Sungai Musi, tepatnya lima kilometer sebelah hilir Jembatan Ampera. Meskipun air Sungai Musi sedang pasang, pulau ini tak pernah terendam. Karena itulah, pulau ini dinamakan Pulau Kemaro.

Di pulau seluas kurang lebih 24 hektare ini berdiri kompleks kelenteng Hok Tjing Bio. Di depannya terdapat makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.
Konon, hubungan putri Palembang dan putra raja China ini berakhir tragis di tengah Sungai Musi. Sembilan guci berisi emas yang akan diberikan kepada keluarga Siti Fatimah sebagai syarat pernikahan mereka, tanpa sengaja dibuang ke Sungai Musi. Karena menyesal dan berusaha mengambil kembali guci itu, mereka berdua tenggelam.
Di tempat guci itu dibuang dan mereka berdua tenggelam itulah, kemudian tumbuh sebuah dataran yang lalu dinamakan Pulau Kemaro. Di pulau ini jugalah Tan Bun An dan Siti Fatimah dimakamkan.
Kisah yang mengandung pesan kebersamaan antara suku asli Palembang dengan pendatang ini sudah lama terjalin dengan baik dan akrab di telinga warga Palembang, baik yang pribumi maupun keturunan Tionghoa. Seperti Risa Zhang (23), yang sangat fasih menuturkan kisah ini. Setiap tahunnya, warga Palembang bersama keluarga dan teman-temannya mengunjungi Pulau Kemaro untuk merayakan Cap Go Meh.
Acara yang dirayakan pada hari ke-13 setelah Sin Cia ini, selalu membuat pulau itu dipenuhi orang-orang. ”Selain dari Sumsel dan daerah lainnya di Indonesia, ada yang datang dari Singapura, Vietnam, dan Malaysia,” kata Risa.
Semenjak pagi sampai malam, berbondong-bondong orang berdatangan. Ada yang menggunakan tongkang dari Benteng Kuto Besak, Kelenteng Serikat di 16 Ilir, dan ada juga yang lewat darat melewati ponton dari PT Pusri.
Dalam perayaan Cap Go Meh, biasanya diramaikan dengan barongsai, opera China dan band yang melantunkan lagu mandarin. Pertunjukan yang berlangsung sampai jam 03.00 pagi itu biasanya dihadiri ribuan orang, membuat pulau itu juga ramai dengan orang yang menjajakan makanan, minuman, aksesori, sampai mainan anak-anak.
”Tepat tengah malam, kebanyakan pengunjung beribadah dan membakar hio sebagai tanda penutupan perayaan tahun baru,” tutur Risa. Selain untuk peribadatan umat Buddha, kelenteng yang berdiri sejak 1962 itu juga dibuka untuk umum. Pada hari biasa, kelenteng jauh lebih sepi. Selain untuk beribadah, ada juga yang datang hanya untuk wisata.














Berharap Enteng Jodoh
Pulau Kemaro juga kerap didatangi pasangan muda-mudi yang ingin mendapat jodoh. Bukan hanya berharap bertemu pasangan di pulau itu, namun setelah pulang dari pulau itu mereka berharap akan enteng jodoh.
Selain itu, tidak jarang juga orang yang datang ke pulau itu ingin mengetahui rezeki di masa depan. Tepat di depan dua makan yang dikeramatkan itu, seorang pemandu akan membantu kita mengulurkan kedua tangan pada sebatang tongkat panjang. Dari ukuran tangan yang kedua itu, pemandu akan menjelaskan keberuntungan kita yang akan datang.
Rindangnya pohon serta pemandangan sungai yang mengasyikkan menjadikan tempat tersebut layak dikunjungi. Bahkan perjalanan menyusuri Sungai Musi yang memakan waktu kurang dari satu jam dari Bentang Kuto Besar dengan menggunakan ketek, cukup mengasyikkan.


Pagoda di Pulau Kemaro (diambil dari http://kotapalembang.blogspot.com)



Ketika memasuki Pulau Kemaro kita akan disambut pendopo berarsitektur China. Kelenteng Hok Tjing Bio seluas 3,5 hektare itu pun kental dengan nuansa China, warna merah keemasan mendominasi. Dua menara tempat pembakaran uang emas, ruang utama, ruang belakang, dan hio yang dibakar terasa di setiap ruangan.
Di bagian lain, kehidupan masyarakat biasa juga terlihat sangat alami. Meskipun perkampungannya diisi rumah-rumah yang jaraknya berjauhan, memberikan kesan alami yang sesungguhnya. Mereka hidup bertani dan menempati rumah-rumah kayu.
Pulau itu dulu pernah dijadikan tempat pembuangan pasca-Gerakan 30 S. Mereka yang dianggap anggota dan pendukung gerakan ini dibuang ke pulau ini. Di beberapa tempat masih terlihat bekas kamp pembuangan tersebut.




Pulau Kemarau saat Capgomeh (diambil dari http://kotapalembang.blogspot.com)


Pulau Kemaro bisa dijangkau dari Jembatan Ampera. Di dekat jembatan Ampera disiapkan kapal khusus, atau bisa juga menggunakan perahu ketek dengan tarif yang lumayan murah. Atau Anda bisa memilih speedboat. Rute yang dilayani biasanya selain ke Pulau Kemaro juga ke lokasi wisata yang lain. n



Copyright © Sinar Harapan 2008

Selasa, 09 Desember 2008

wisata kemilau

Kemilau Sumatera Dipusatkan di Palembang

Palembang:
Kemilau Sumatera yang merupakan bagian dari program pariwisata Visit Indonesia Year 2008, tahun ini dipusatkan di kota Palembang , ibukota Provinsi Sumatera Selatan. Ada 10 provinsi di Sumatera yang mengikuti acara ini dengan menggelar stand untuk mempromosikan tempat-tempat wisata di daerah masing-masing.
Misalnya, Provinsi Nangro Aceh Darussalam, (NAD), Sumatera Barat, Provinsi Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Riau, Bangka Belitung, dan Sumatera Utara. Lima belas kabupaten dan kota di Sumatera Selatan, Musi Tourism Board ( MTB ), PHRI, dan Asita, turut ambil bagian dalam ajang Kemilau Sumatera ini.
Direktur Promosi Dalam Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Fathul Bahri mengatakan selain Kemilau Sumatera, pihaknya juga akan menggelar Kemilau Sulawesi untuk menunjang sukses Visit Indonesia Year 2008.
"Kemilau Sumatera ini memberi wadah bagi pemerintah daerah se wilayah Sumatera untuk melakukan promosi pariwisata perdagangan dan ninvestasi terpadu setrta membantu percepatan pembangunan kepariwisataan di kawasan Sumatera dan sekitarnya," ujarnya didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Rachman Zeth.
“Kemilau Sumatera merupakan salah satu bentuk komitmen kami untuk menyukseskan progaram Visit Indonesia Year 2008. Dipusatkan di. Palembang, dengan pertimbangan untuk membangun sinergi dan keterpaduan program, khususnya membangun citra yang lebih kuat mengenai kepariwisataan Indonesia,” kata Fathul di sela-sela lounching Kemilau Sumatera, yang berlangsung di areal Palembang Square 17-20 Juli 2008 mendatang.
Tahun ini, katanya, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menargetkan jumlah kunjungan wisata nusantara sebanyak 223 juta orang dan 7 juta wisatawan mancanegara. Untuk mencapai target ini, pihaknya sudah mempetakan sebanyak 10 daerah unggulan yang ada di Indonesia .
Daerah unggulan tersebut, diantaranya, Sumatera Barat, Sulawesik Selatan, Sulawesi Utara, NTB, NTT , Riau Sumatera Selatan, Papua Barat dan Kalimantan Timur.
Di sisi lain, melakukan pola penjualan objek wisata dengan sistem gerilya marketing. Pola gerilya marketing ini dilakukan dengan merangkul pihak swasta terutama yang bergerak di bidang pemasaran produk.
“Seperti saat ini, kita melakukan peluncuran di areal mall. Ini merupakan salah satu tempat yang sangat strategis, dan efektif untuk memperkenalkan tempat-tempat wisata di tanah air, kepada pengunjung yang berbelanja di mall,” katanya.
Dia mengakui, potensi wisata Indonesia , sebetulnya tidak kalah dengan negara-negara lain, hanya saja sistem packeging nya yang perlu dibenahi. Di sisi lain pembenahan infratsruktur merupakan bagian yang penting yang perlu dibenahi untuk menunjang suksesnya Visit Indonesia Year 2008. (sir)